Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) terus memperluas aksi nyata penghijauan melalui program PNM Hijaukan Negeri. Hingga Desember 2025, PNM telah menanam 374.839 pohon di berbagai wilayah Indonesia—sebuah capaian yang tidak hanya simbolis, tetapi juga berdampak langsung bagi pemulihan ekosistem dan pengurangan emisi karbon nasional.
Capaian tersebut terdiri dari 287.761 pohon yang ditanam di 67 titik sepanjang 2024, ditambah 87.078 pohon pada 2025. Secara kumulatif, pohon-pohon ini berpotensi menyerap lebih dari 8.900 ton CO₂, berkontribusi nyata pada upaya mitigasi perubahan iklim. Program ini selaras dengan Gerakan Nasional Penanaman Satu Miliar Pohon (GNP-SMP) dan peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon, yang mendorong peningkatan tutupan vegetasi serta pemulihan lahan kritis di berbagai bentang alam Indonesia.
Penghijauan sebagai Kebutuhan Mendesak
Di tengah laju emisi karbon, degradasi lahan, dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan abrasi, penanaman pohon bukan lagi sekadar kegiatan seremonial. Ia menjadi kebutuhan mendesak. Pohon berperan penting menstabilkan tanah, mengatur siklus air, menyerap CO₂, serta menjaga keanekaragaman hayati. Dalam konteks ini, program PNM Hijaukan Negeri diposisikan sebagai intervensi lingkungan yang terukur dan berkelanjutan.
Lebih dari itu, PNM memandang penghijauan sebagai investasi jangka panjang yang memberi manfaat ekologis sekaligus sosial-ekonomi. Lingkungan yang pulih menciptakan fondasi kuat bagi aktivitas ekonomi masyarakat—terutama kelompok rentan dan pelaku usaha ultra mikro yang selama ini menjadi fokus pemberdayaan PNM.
Strategi Lokasi dan Jenis Pohon yang Tepat Guna
Keberhasilan program penghijauan sangat ditentukan oleh kesesuaian jenis tanaman dengan karakteristik wilayah. Karena itu, PNM menerapkan pendekatan berbasis ekologi lokal. Untuk wilayah pesisir, PNM menanam mangrove dan cemara laut yang efektif menahan abrasi dan meredam gelombang. Di lahan basah dan rawa, dipilih rambai dan jelutung rawa yang adaptif terhadap genangan.
Sementara itu, untuk ruang publik dan kawasan permukiman, PNM menanam pohon peneduh dan estetika seperti glodokan, trembesi, tabebuya, jambu mete, dan akar wangi. Di wilayah dengan potensi ekonomi, PNM juga menanam pohon produktif—mangga, alpukat, durian, pala, kakao, dan kopi—agar penghijauan sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi warga.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat GNP-SMP yang menekankan keterlibatan masyarakat dan keberlanjutan hasil. Pohon yang ditanam bukan hanya tumbuh, tetapi dirawat dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Gerakan Kolektif Bersama Masyarakat
PNM memastikan bahwa penanaman tidak berhenti pada penancapan bibit. Kegiatan dilaksanakan bersama masyarakat lokal dan nasabah PNM, menjadikannya gerakan kolektif yang memperkuat kepedulian dan rasa memiliki. Model partisipatif ini penting untuk memastikan tingkat keberhasilan tanam yang tinggi serta keberlanjutan perawatan.
Melalui keterlibatan warga, program ini juga menjadi sarana edukasi lingkungan—menumbuhkan kesadaran bahwa perlindungan alam adalah tanggung jawab bersama. Di banyak lokasi, penanaman pohon turut diiringi dengan pendampingan, pemeliharaan, dan pemantauan berkala agar manfaat ekologisnya optimal.
Dampak Ekologis yang Terukur
Secara ekologis, ratusan ribu pohon yang ditanam PNM memberi dampak berlapis. Di pesisir, mangrove dan cemara laut membantu memperbaiki ekosistem pantai, menyediakan habitat biota, dan mengurangi abrasi. Di daratan, pohon peneduh memperbaiki kualitas udara, menurunkan suhu mikro, dan meningkatkan kenyamanan ruang publik. Pohon produktif mendukung ketahanan pangan dan pendapatan masyarakat.
Potensi penyerapan >8.900 ton CO₂ menegaskan kontribusi nyata PNM terhadap aksi iklim. Angka ini bukan klaim abstrak, melainkan estimasi berbasis jenis tanaman dan luasan tanam—sebuah pendekatan yang menempatkan akuntabilitas sebagai prinsip utama.
Komitmen Lingkungan sebagai Bagian dari Pemberdayaan
Sekretaris Perusahaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan adalah bagian integral dari visi pemberdayaan. Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak boleh berdiri sendiri tanpa menjaga ekosistem penopangnya.
“Kami meyakini bahwa pemberdayaan ekonomi harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Melalui PNM Hijaukan Negeri, kami ingin memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekaligus bagi ekosistem yang menopang kehidupan,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan posisi PNM dalam kerangka ESG (Environmental, Social, Governance)—bahwa keberhasilan korporasi diukur dari dampak positifnya bagi lingkungan dan sosial, bukan semata kinerja finansial.
Kontribusi pada SDGs dan Agenda Nasional
Melalui PNM Hijaukan Negeri, PNM berkontribusi langsung pada SDG 13 (Aksi Iklim), SDG 14 (Ekosistem Laut), dan SDG 15 (Ekosistem Daratan). Penanaman mangrove dan pohon pesisir mendukung perlindungan laut dan pantai, sementara penghijauan daratan memulihkan lahan kritis dan meningkatkan biodiversitas.
Di tingkat nasional, program ini memperkuat agenda pemerintah dalam meningkatkan tutupan vegetasi dan menekan dampak perubahan iklim. PNM tidak hanya mendukung GNP-SMP secara simbolik, tetapi menerjemahkannya menjadi aksi lapangan yang konsisten dan terukur.
Menjaga Konsistensi dan Keberlanjutan
Tantangan terbesar penghijauan adalah menjaga konsistensi pascatanam. PNM menyadari hal ini dan menekankan pentingnya pemeliharaan, pemantauan, serta kolaborasi lintas pihak—pemerintah daerah, komunitas, dan pemangku kepentingan lokal. Ke depan, PNM menargetkan perluasan titik tanam dan peningkatan kualitas perawatan agar manfaat ekologis dan sosial terus berlipat.
Dengan rekam jejak 374.839 pohon hingga 2025, PNM menunjukkan bahwa komitmen hijau bukan jargon. Ia adalah kerja berkelanjutan yang menautkan aksi iklim, pemulihan ekosistem, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu gerak bersama—menghijaukan negeri hari ini, untuk masa depan yang lebih lestari.
Baca Juga : Biaya Bongkar Tiang Monorel Tak Sampai Rp300 Juta, Warga Perlu Tahu
Cek Juga Artikel Dari Platform : medianews

