jelajahhijau.com Di banyak kota besar, kolong tol sering kali identik dengan ruang kumuh, gelap, dan tak terawat. Area ini kerap menjadi tempat pembuangan sampah liar atau sekadar ruang kosong yang tidak memiliki fungsi jelas. Namun, pandangan tersebut mulai berubah ketika sebuah inisiatif urban farming tumbuh di kolong Tol Becakayu.
Lahan yang sebelumnya terkesan terbengkalai kini menjelma menjadi kebun kota yang hijau dan produktif. Transformasi ini membuktikan bahwa ruang terbatas di perkotaan tetap bisa dimanfaatkan secara kreatif dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Urban Farming sebagai Solusi Ruang Perkotaan
Urban farming atau pertanian perkotaan hadir sebagai jawaban atas keterbatasan lahan hijau di kota. Konsep ini memungkinkan warga memproduksi pangan secara mandiri di ruang-ruang nonkonvensional, termasuk di bawah jalan layang.
Di kolong Tol Becakayu, pendekatan ini diterapkan dengan menanam berbagai jenis sayuran di lahan seluas ratusan meter persegi. Dengan penataan yang rapi dan perawatan rutin, kawasan ini berubah menjadi ruang hijau yang tidak hanya produktif, tetapi juga sedap dipandang.
Peran PPSU dan PKK dalam Merawat Kebun Kota
Keberhasilan urban farming di kawasan ini tidak lepas dari peran aktif berbagai pihak. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) bersama kader PKK menjadi motor penggerak utama dalam perawatan kebun.
Setiap hari, mereka memastikan tanaman mendapatkan perawatan yang dibutuhkan, mulai dari penyiraman, pemupukan, hingga pengendalian hama. Kerja kolektif ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah tingkat lokal dan masyarakat mampu menghasilkan perubahan nyata di lingkungan perkotaan.
Aneka Sayuran Tumbuh Subur di Bawah Jalan Layang
Beragam jenis sayuran berhasil tumbuh subur di lahan urban farming ini. Mulai dari sayuran daun hingga tanaman yang memiliki nilai gizi tinggi, semuanya ditanam dengan metode yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan kolong tol.
Pemilihan tanaman dilakukan secara cermat agar tetap dapat tumbuh optimal meski berada di area dengan paparan cahaya matahari terbatas. Hasilnya, kebun ini tidak hanya menjadi simbol penghijauan, tetapi juga sumber pangan segar yang dapat dimanfaatkan.
Dampak Positif bagi Lingkungan Sekitar
Hadirnya kebun urban di kolong tol membawa dampak positif yang signifikan bagi lingkungan sekitar. Area yang sebelumnya gersang kini menjadi lebih sejuk dan bersih. Penghijauan membantu mengurangi debu serta meningkatkan kualitas udara di sekitarnya.
Selain itu, keberadaan kebun ini juga mengurangi potensi penumpukan sampah liar. Ruang yang aktif digunakan dan dirawat secara rutin cenderung lebih terjaga kebersihannya dibandingkan area yang dibiarkan kosong.
Mendorong Kesadaran Pangan dan Ketahanan Lokal
Urban farming di kawasan ini juga berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ketahanan pangan. Dengan melihat langsung proses menanam dan merawat tanaman, warga menjadi lebih dekat dengan sumber pangan mereka.
Kesadaran ini penting di tengah tantangan perkotaan yang bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Pertanian skala kecil di kota, meski tidak menggantikan produksi besar, dapat menjadi pelengkap yang bernilai strategis.
Ruang Edukasi dan Interaksi Sosial
Lebih dari sekadar kebun, area urban farming ini berkembang menjadi ruang edukasi dan interaksi sosial. Anak-anak dan warga sekitar dapat belajar tentang cara bercocok tanam, pengelolaan lingkungan, serta pentingnya menjaga ruang publik.
Interaksi yang terbangun di sekitar kebun menciptakan rasa memiliki terhadap lingkungan. Warga tidak lagi memandang kolong tol sebagai ruang asing, melainkan sebagai bagian dari lingkungan hidup yang perlu dijaga bersama.
Tantangan dalam Mengelola Urban Farming
Meski membawa banyak manfaat, pengelolaan urban farming di kolong tol tetap menghadapi tantangan. Keterbatasan cahaya, potensi polusi, serta kebutuhan perawatan berkelanjutan menjadi aspek yang harus diperhatikan secara serius.
Dibutuhkan komitmen jangka panjang agar kebun tetap produktif dan terawat. Tanpa perawatan rutin, ruang hijau ini berisiko kembali terbengkalai. Oleh karena itu, keberlanjutan program menjadi fokus utama pengelola.
Potensi Replikasi di Wilayah Lain
Keberhasilan urban farming di kolong Tol Becakayu membuka peluang untuk diterapkan di lokasi serupa. Banyak kolong tol dan ruang bawah infrastruktur lain yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang hijau produktif.
Dengan dukungan kebijakan dan partisipasi masyarakat, konsep ini dapat direplikasi di berbagai wilayah perkotaan. Selain meningkatkan kualitas lingkungan, urban farming juga dapat memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi lokal.
Kesimpulan: Hijau yang Tumbuh dari Kolaborasi
Transformasi kolong Tol Becakayu menjadi kebun urban menunjukkan bahwa perubahan positif dapat dimulai dari ruang yang paling terabaikan. Melalui kolaborasi PPSU, PKK, dan masyarakat, lahan kumuh berhasil disulap menjadi ruang hijau yang bermanfaat.
Urban farming di kawasan ini bukan hanya tentang menanam sayuran, tetapi juga menanam harapan. Ia menjadi contoh nyata bagaimana kota dapat tumbuh lebih hijau, sehat, dan inklusif melalui pemanfaatan ruang yang cerdas dan partisipatif.

Cek Juga Artikel Dari Platform 1reservoir.com
