Upaya penyelamatan Taman Nasional Tesso Nilo kembali memasuki babak penting. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah mengambil langkah konkret melalui penumbangan tanaman sawit ilegal dan penanaman kembali pohon hutan asli di Desa Bagan Limau, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Aksi ini menjadi sinyal kuat bahwa pemulihan ekosistem tidak lagi berhenti pada wacana, tetapi bergerak ke tindakan nyata di lapangan.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni, Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan, serta Plt Gubernur Riau bersama unsur forkopimda. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan komitmen negara untuk mengembalikan fungsi ekologis Tesso Nilo, kawasan yang selama bertahun-tahun mengalami tekanan berat akibat alih fungsi lahan.
Negara Hadir dengan Pendekatan Persuasif
Dalam keterangannya, Menteri Kehutanan menegaskan bahwa kehadiran negara di Tesso Nilo bukan untuk memusuhi masyarakat. Pemerintah memilih pendekatan persuasif dan dialogis dalam melakukan penertiban kawasan. Relokasi masyarakat yang selama ini berkebun di dalam kawasan taman nasional dilakukan dengan mengedepankan solusi berkeadilan, bukan dengan cara represif.
Pendekatan ini penting karena realitas sosial di sekitar Tesso Nilo sangat kompleks. Banyak warga yang telah lama menggantungkan hidup pada lahan sawit yang secara hukum berada di kawasan konservasi. Dengan pendekatan persuasif, pemerintah berupaya membangun kesadaran bahwa kelestarian hutan justru menjadi fondasi keberlanjutan ekonomi jangka panjang bagi masyarakat sekitar.
Sawit Ditumbangkan, Hutan Dipulihkan
Penumbangan tanaman sawit di dalam kawasan taman nasional menjadi langkah awal pemulihan ekosistem. Sawit yang ditanam secara ilegal selama bertahun-tahun telah mengubah lanskap hutan hujan tropis menjadi monokultur, menghilangkan tutupan hutan alami, serta memutus koridor satwa liar.
Setelah penumbangan, dilakukan penanaman kembali pohon-pohon endemik dan tanaman hutan yang sesuai dengan karakter ekosistem Tesso Nilo. Langkah ini bertujuan memulihkan fungsi hidrologi, memperbaiki kualitas tanah, serta menciptakan kembali habitat alami bagi satwa liar seperti gajah Sumatra, harimau, dan berbagai spesies burung endemik.
Restorasi ini tidak hanya berorientasi pada jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga pada kualitas dan keberlanjutan. Pemerintah menekankan pentingnya pemeliharaan pascatanam agar tingkat keberhasilan restorasi benar-benar optimal.
Tesso Nilo dan Krisis Ekologis
Tesso Nilo dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di Sumatra. Namun dalam dua dekade terakhir, kawasan ini menjadi simbol krisis ekologis akibat perambahan hutan dan ekspansi sawit ilegal. Berbagai kajian menyebutkan bahwa sebagian besar kawasan telah mengalami degradasi serius, memicu konflik satwa-manusia, banjir, dan kekeringan musiman.
Pemulihan Tesso Nilo menjadi krusial tidak hanya bagi Riau, tetapi juga bagi upaya Indonesia menjaga komitmen konservasi global. Kawasan ini berperan sebagai paru-paru hijau regional dan penyangga kehidupan bagi ribuan masyarakat di sekitarnya.
Sinergi Lintas Kementerian dan Daerah
Langkah pemulihan ini melibatkan sinergi lintas kementerian, mulai dari Kementerian Kehutanan, ATR/BPN, hingga pemerintah daerah. Koordinasi ini penting untuk memastikan penataan ruang, status lahan, dan program pemberdayaan masyarakat berjalan seiring.
Pemerintah daerah berperan dalam mendampingi masyarakat terdampak relokasi, termasuk penyediaan alternatif mata pencaharian dan akses lahan di luar kawasan taman nasional. Tanpa dukungan ini, restorasi ekologis berisiko tidak berkelanjutan karena tekanan sosial-ekonomi yang terus berulang.
Konservasi dan Keadilan Sosial
Pemulihan Tesso Nilo menandai perubahan paradigma konservasi di Indonesia. Konservasi tidak lagi dipahami semata sebagai perlindungan kawasan, tetapi juga sebagai upaya menyeimbangkan kepentingan ekologis dan keadilan sosial. Negara hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai fasilitator solusi.
Dengan menumbangkan sawit ilegal dan memulihkan hutan secara bertahap, pemerintah mengirim pesan tegas bahwa kawasan konservasi harus dikembalikan pada fungsinya. Namun pesan itu disertai dengan tangan terbuka bagi masyarakat untuk bersama-sama membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
Harapan ke Depan
Langkah nyata di Bagan Limau diharapkan menjadi titik awal pemulihan menyeluruh Tesso Nilo. Keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan, pengawasan di lapangan, serta partisipasi aktif masyarakat.
Jika restorasi berjalan sesuai rencana, Tesso Nilo tidak hanya akan pulih sebagai hutan hujan tropis, tetapi juga menjadi contoh nasional bagaimana negara, masyarakat, dan lingkungan dapat berjalan beriringan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis ekologi, Tesso Nilo menjadi pengingat bahwa pemulihan alam masih mungkin dilakukan—asal ada keberanian untuk bertindak dan komitmen untuk menjaga keberlanjutan.
Baca Juga : DLH Kabupaten Kediri Gelar Penghijauan HMPI 2025 di Pare
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : suarairama

