jelajahhijau.com Gerakan penghijauan di Wonogiri kembali mendapat sorotan nasional. Bukan semata aksi lingkungan, penghijauan diposisikan sebagai bagian dari strategi ketahanan bangsa dan wujud nyata bela negara berbasis ekologi. Pandangan ini disampaikan oleh Yulius Setiarto, anggota DPR RI, saat menghadiri Gerakan Penghijauan PAWONMAS bersama komunitas Laskar Sadiman.
Kehadiran Yulius di Wonogiri memiliki makna personal. Meski kini mengemban amanah sebagai wakil rakyat di Senayan, ia menegaskan keterikatannya dengan Wonogiri sebagai tanah kelahiran yang membentuk karakter dan cara pandangnya tentang kehidupan. Menurutnya, bentang alam Wonogiri yang kering, berbukit, dan berbatu justru melahirkan manusia-manusia tangguh yang mampu bertahan dan memberi kehidupan di berbagai tempat.
Alam Wonogiri dan Kearifan Lokal
Wonogiri dikenal memiliki lanskap yang unik dan beragam. Di satu sisi terdapat kawasan karst yang kering, di bagian lain perbukitan, serta wilayah dataran dan waduk yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Kondisi alam ini membentuk kearifan lokal yang menempatkan alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan mitra hidup.
Dalam pandangan Yulius, masyarakat Wonogiri sejak lama mempraktikkan etika ekologis melalui tradisi menjaga hutan, melindungi pohon di sekitar sumber air, serta merawat sendang dan mata air desa. Nilai-nilai tersebut diwariskan lintas generasi sebagai bagian dari cara hidup, bukan sekadar aturan formal.
Ia menilai apa yang dilakukan oleh Laskar Sadiman merupakan kelanjutan dari tradisi leluhur itu. Gerakan penghijauan bukan proyek jangka pendek, melainkan laku hidup yang dijalani dengan kesabaran dan ketekunan. Menanam pohon berarti merawat masa depan, meski hasilnya baru dirasakan oleh generasi berikutnya.
Penghijauan sebagai Bela Negara
Yulius menegaskan bahwa bela negara tidak selalu identik dengan senjata atau medan tempur. Dalam konteks krisis iklim dan degradasi lingkungan, menjaga alam justru menjadi bentuk bela negara yang relevan dan strategis. Tanpa hutan yang terjaga, ketersediaan air terancam. Tanpa air, ketahanan pangan goyah. Ketika pangan terganggu, stabilitas sosial pun ikut terancam.
Sebagai anggota Komisi I DPR RI yang membidangi pertahanan dan keamanan, Yulius menekankan keterkaitan langsung antara isu lingkungan dan ketahanan nasional. Penghijauan di tingkat desa menjadi fondasi penting bagi stabilitas jangka panjang bangsa.
Menurutnya, gerakan yang tumbuh dari masyarakat akar rumput seperti Laskar Sadiman mencerminkan patriotisme sunyi. Tidak banyak sorotan, tidak mencari panggung, tetapi dampaknya lintas generasi. Pohon yang ditanam hari ini akan menjadi penyangga kehidupan puluhan tahun ke depan.
Inspirasi dari Sejarah Bangsa
Dalam sambutannya, Yulius juga mengaitkan gerakan penghijauan Wonogiri dengan kisah sejarah nasional. Ia mengingatkan kembali upaya penghijauan yang digagas oleh Soekarno di Padang Arafah. Di tanah yang dikenal gersang, pohon-pohon yang ditanam kala itu tumbuh rindang dan hingga kini menjadi simbol warisan hijau Indonesia.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keterbatasan alam bukan alasan untuk menyerah. Jika di tanah sekeras Arafah penghijauan dapat berhasil, maka Wonogiri yang memiliki potensi ekologis tidak seharusnya kehilangan harapan.
Ia juga mengutip pandangan Megawati Soekarnoputri yang menekankan bahwa krisis lingkungan pada dasarnya adalah krisis etika. Prinsip Memayu Hayuning Bawana—merawat dan memperindah dunia—menjadi landasan moral dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Peran Desa dalam Menjaga Masa Depan
Gerakan penghijauan di Wonogiri menunjukkan bahwa solusi atas krisis lingkungan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar di pusat. Desa memiliki peran strategis sebagai penjaga ekosistem. Ketika masyarakat desa bergerak, dampaknya bisa meluas hingga skala regional dan nasional.
Laskar Sadiman menjadi contoh bagaimana komunitas lokal mampu menggerakkan perubahan melalui konsistensi. Menanam, merawat, dan menjaga pohon dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa alam adalah titipan bagi generasi mendatang.
Yulius berharap gerakan seperti ini mendapat dukungan luas, baik dari pemerintah, organisasi masyarakat, maupun generasi muda. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar penghijauan tidak berhenti sebagai simbol, melainkan menjadi budaya.
Menanam Harapan untuk Generasi Mendatang
Menutup pesannya, Yulius menyampaikan harapan agar anak-cucu Wonogiri kelak mengenang generasi hari ini sebagai generasi yang memilih menjaga alam di tengah krisis ekologis. Keputusan untuk menanam pohon, menurutnya, adalah keputusan untuk berpihak pada kehidupan.
Penghijauan Wonogiri bukan hanya tentang pohon yang tumbuh, tetapi tentang nilai yang ditanam: tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian terhadap masa depan. Dalam konteks ini, menjaga lingkungan adalah bentuk bela negara yang paling mendasar—melindungi sumber kehidupan bangsa dari hulu.

Cek Juga Artikel Dari Platform ketapangnews.web.id
