Papua Bukan Tanah Kosong
Papua bukan tanah kosong. Ia bukan halaman belakang republik yang bisa diperlakukan sesuka hati. Papua adalah tubuh hidup: hutannya adalah paru-paru, sungainya adalah darah, dan masyarakat adatnya adalah jantung yang menjaga denyut kehidupan. Selama ribuan tahun, sistem ini bekerja selaras tanpa merusak dirinya sendiri.
Namun hari ini, tubuh itu dilukai secara perlahan dan sistematis. Atas nama pembangunan, hutan ditebang, tanah dirampas, sungai diracuni, dan masyarakat adat dipaksa diam. Yang terjadi bukan kecelakaan alam, bukan pula takdir pembangunan, melainkan rangkaian keputusan politik yang sadar dan terencana.
Pembangunan yang Datang Tanpa Persetujuan
Narasi resmi sering menyebut investasi sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Namun di Papua, investasi kerap datang tanpa persetujuan bebas, didahului, dan diinformasikan (Free, Prior, and Informed Consent / FPIC) dari masyarakat adat. Perkebunan sawit skala raksasa, pertambangan, jalan industri, dan konsesi kehutanan masuk dengan peta bisnis, bukan dengan dialog setara.
Tanah ulayat yang selama ini menjadi ruang hidup dan sumber identitas masyarakat adat direduksi menjadi koordinat dan angka. Ketika hutan hilang, bukan hanya pohon yang tumbang. Sejarah lisan, pengetahuan lokal, ritual, dan masa depan generasi ikut ditebang. Pembangunan semacam ini tidak membangun, tetapi mencabut akar kehidupan.
Kekayaan Alam yang Memiskinkan
Ironi paling kejam adalah ketika Papua terus disebut sebagai wilayah “kaya”, tetapi rakyatnya justru dimiskinkan. Kekayaan alam mengalir keluar pulau dalam bentuk kayu, mineral, dan komoditas. Sementara itu, kerusakan ekologis menetap di kampung-kampung: tanah rusak, air tercemar, dan sumber pangan menghilang.
Negara sering hadir dengan aparat, tetapi absen dengan keadilan. Ketika masyarakat adat mempertahankan tanahnya, suara penolakan dicurigai. Aktivis lingkungan dikriminalisasi. Kritik dilabeli ancaman. Dalam situasi seperti ini, pembangunan berubah menjadi alat pembungkaman, bukan kesejahteraan.
Deforestasi Papua adalah Ancaman Global
Hutan Papua bukan hanya penting bagi orang Papua. Ia adalah benteng terakhir keanekaragaman hayati dunia dan penyangga penting krisis iklim global. Di dalamnya hidup spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain, serta ekosistem yang menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Menebang hutan Papua berarti mempercepat perubahan iklim, meningkatkan risiko bencana, dan memperburuk krisis lingkungan lintas negara. Namun ironi tetap sama: dampak globalnya luas, tetapi beban terberat ditanggung secara lokal oleh masyarakat adat.
Perempuan, Anak, dan Generasi yang Dirampas
Deforestasi tidak pernah netral. Dampaknya paling keras dirasakan oleh kelompok yang paling rentan. Perempuan adat kehilangan kebun pangan yang selama ini menopang keluarga. Anak-anak kehilangan akses air bersih dan lingkungan sehat untuk tumbuh. Generasi muda dirampas haknya untuk mewarisi tanah leluhur.
Kerusakan ini bersifat lintas generasi. Apa yang hilang hari ini tidak dapat dipulihkan dalam satu periode pembangunan. Ketika hutan habis, yang tersisa adalah ketergantungan, kemiskinan struktural, dan konflik berkepanjangan.
Negara, Modal, dan Keheningan yang Disengaja
Deforestasi di Papua tidak mungkin terjadi tanpa pembiaran sistemik. Izin-izin diterbitkan, pengawasan dilemahkan, dan pelanggaran jarang ditindak tegas. Dalam banyak kasus, denda dan sanksi tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan.
Keheningan menjadi bagian dari mekanisme kekuasaan. Selama suara-suara kritis dibungkam dan informasi tidak dibuka secara jujur, eksploitasi akan terus berjalan. Ini bukan kegagalan teknis, melainkan pilihan politik.
Stop Deforestasi di Papua adalah Tuntutan
“STOP DEVORESTASI DI PAPUA” bukan sekadar slogan. Ini adalah tuntutan moral dan politik. Negara harus segera menghentikan ekspansi konsesi yang merusak, meninjau dan mencabut izin bermasalah, serta mengakui dan melindungi hak masyarakat adat secara nyata, bukan simbolik.
Dialog harus dibuka secara jujur dan setara. Pembangunan harus berangkat dari manusia dan alam, bukan dari keserakahan modal. Tanpa perubahan arah, setiap proyek baru hanya akan menambah daftar luka ekologis dan sosial.
Papua Tidak Butuh Belas Kasihan
Papua tidak meminta belas kasihan. Papua menuntut keadilan. Keadilan atas tanah, atas hutan, atas hak menentukan masa depan sendiri. Jika penebangan dan perusakan terus dibiarkan, sejarah akan mencatat dengan jelas: kehancuran Papua bukan bencana alam, melainkan keputusan yang disengaja.
Hentikan sekarang, sebelum hutan terakhir ini benar-benar tinggal nama dan Papua dipaksa sunyi.
Baca Juga : Selamat Tahun Baru Rakyat Bikini Bottom
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : hotviralnews

