Di halaman rumah sederhana di Desa Giri Mulyo, Kecamatan Marga Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, berdiri sebuah pohon alpukat tua yang menjadi saksi perjalanan panjang inovasi pertanian berbasis kearifan lokal. Pohon berusia sekitar 40 tahun itu memiliki diameter batang kurang lebih 40 sentimeter, tajuk rimbun, serta cabang yang kokoh. Tingginya mencapai sembilan meter dan hingga kini masih produktif menghasilkan pucuk-pucuk unggul yang dimanfaatkan sebagai entres atau mata tunas untuk pembibitan.
Dari pohon indukan inilah lahir varietas alpukat unggulan lokal yang dikenal dengan nama alpukat siger. Sosok di balik pengembangan varietas ini adalah Anto Abdul Mutholib, seorang pegiat kehutanan dan pertanian yang sejak lama memikirkan cara memulihkan fungsi ekologis kawasan Register 38 Gunung Balak, Sekampung Udik, Lampung Timur.
Alpukat sebagai Jalan Tengah Rehabilitasi Hutan
Anto memilih alpukat bukan tanpa alasan. Menurutnya, lahan Register 38 merupakan kawasan milik negara yang harus dikembalikan fungsi hutannya. Namun, pendekatan konservasi tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar.
“Alpukat menjadi alternatif yang realistis. Ia memperbaiki vegetasi, berakar kuat, dan hasilnya bisa dimanfaatkan oleh warga,” ujar Anto. Dengan konsep ini, rehabilitasi lahan tidak sekadar menanam pohon, tetapi juga menciptakan sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Upaya tersebut mulai ia rintis sejak 2009. Selama bertahun-tahun, Anto melakukan uji coba teknik okulasi atau sambung pucuk alpukat. Setiap hari, kegiatannya hanya menyambung mata tunas ke batang bawah. Aktivitas yang monoton itu sempat dianggap aneh oleh sebagian orang.
Namun, hasil kerja panjang itu mulai terlihat antara 2014 hingga 2017. Alpukat siger terbukti mampu beradaptasi dengan baik di lahan Register 38 dan menunjukkan produktivitas yang jauh lebih cepat dibanding alpukat pada umumnya.
Panen Cepat dan Produktivitas Tinggi
Salah satu keunggulan alpukat siger adalah kemampuannya berbuah pada usia sekitar 17 bulan. Ini jauh lebih cepat dibanding alpukat konvensional yang umumnya baru berbuah setelah lebih dari tiga tahun.
Dengan pemilihan mata tunas dan batang bawah yang cermat, satu pohon alpukat siger mampu menghasilkan hingga 125 kilogram buah per tahun. Berat buah per butir berkisar antara 500 hingga 900 gram, dengan warna daging kuning mentega dan bentuk buah bersiku yang khas.
Keunggulan ini membuat alpukat siger cepat diminati petani penggarap. Anto pun aktif membina masyarakat melalui kelompok tani hutan Agro Mulya Lestari. Hingga kini, ia membina sekitar 105 penangkar bibit dan mengizinkan mereka mengambil entres dari pohon induk miliknya.
“Sekali petik bisa ada 210 batang entres. Semua saya hibahkan ke masyarakat. Kalau dijual, nilainya bisa mencapai Rp100–200 juta,” ungkap Anto.
Dari Konflik Lahan ke Model Agroforestri
Keberadaan alpukat siger juga membawa dampak sosial yang signifikan. Menurut Idi Bantara, Kepala Balai Pengelola Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Way Seputih–Way Sekampung, alpukat siger menjadi solusi atas konflik panjang di Register 38 Gunung Balak.
Wilayah ini telah dihuni masyarakat sejak 1963. Namun, pada 1980 terjadi pengosongan lahan akibat pembangunan bendungan dan penataan kawasan, yang kemudian memicu konflik berkepanjangan hingga akhir 1980-an.
Berbagai upaya rehabilitasi lahan sempat dilakukan pemerintah, namun hasilnya minim. Hingga akhirnya, pendekatan agroforestri berbasis alpukat siger membuka jalan tengah antara konservasi dan kesejahteraan warga.
Sebagai demplot awal, alpukat ditanam di lahan seluas 15 hektare. Kini, luas tanam alpukat di kawasan Gunung Balak mencapai sekitar 960 hektare, sementara di Desa Giri Mulyo mencapai 365 hektare. Dalam satu hektare ditanam sekitar 400 pohon dengan jarak tanam 2,5 x 10 meter, menyisakan ruang untuk tanaman sela seperti jagung.
Diakui Secara Nasional
Keberhasilan alpukat siger tidak hanya dirasakan di tingkat lokal. Varietas ini telah terdaftar resmi di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) Kementerian Pertanian dengan nomor 1666/PVL/2021, menggunakan nama varietas Ratu Puan.
Nama Ratu Puan merupakan akronim dari rangkaian tugas program unggulan agroforestri nasional. Pengakuan ini menegaskan alpukat siger sebagai sumber genetik lokal yang sah dan memiliki nilai strategis bagi pertanian Indonesia.
Hasil penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung juga menunjukkan kandungan gizi alpukat siger yang baik, dengan serat sekitar 6 persen dan gula 2 persen. Komposisi ini menjadikannya aman dan menyehatkan untuk dikonsumsi.
Manfaat Alpukat bagi Kesehatan
Dari sisi kesehatan, alpukat dikenal sebagai buah dengan kandungan lemak baik yang tinggi. Menurut dr. Khairun Nisa, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, sekitar 30 persen kandungan alpukat berupa lemak, yang didominasi lemak tak jenuh.
Lemak tak jenuh berperan penting dalam menjaga keseimbangan hormon dan fungsi saraf. Sementara lemak jenuh tetap dibutuhkan tubuh, terutama untuk membantu sistem pencernaan bekerja optimal.
Alpukat juga mengandung karbohidrat berantai panjang, sehingga peningkatan gula darah terjadi secara perlahan. Hal ini membuat alpukat relatif aman bagi penderita diabetes jika dikonsumsi dengan porsi wajar.
Kebanggaan Lokal dan Harapan Masa Depan
Kini, alpukat siger tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Lampung Timur. Varietas ini membuktikan bahwa inovasi berbasis lokal mampu menjawab persoalan lingkungan, ekonomi, dan sosial secara bersamaan.
Bagi Anto Abdul Mutholib, alpukat siger bukan sekadar buah, melainkan jalan panjang menuju keharmonisan antara manusia dan alam. Sebuah contoh bahwa rehabilitasi hutan bisa berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat, jika dilakukan dengan ketekunan, kesabaran, dan keberanian berpikir berbeda.
Baca Juga : 7 Tanaman Hias Penyerap Lembap untuk Kamar Mandi Lebih Segar
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : outfit

