jelajahhijau.com Pemerintah Provinsi Bali kembali menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan dengan menyambut baik penerapan kalkulator hijau dari Bank Indonesia. Alat ini dirancang untuk menghitung pengeluaran emisi dari berbagai kegiatan ekonomi dan mendorong kompensasi melalui aksi-aksi ramah lingkungan. Kehadiran kalkulator hijau dinilai menjadi langkah penting dalam memperkuat pemahaman masyarakat dan pelaku usaha mengenai jejak karbon serta cara menguranginya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Bali, I Made Rentin, mengungkapkan bahwa kalkulator hijau dapat menjadi sarana edukasi yang efektif untuk mempelajari perhitungan dan pengolahan jejak karbon. Dengan memahami emisi yang dihasilkan oleh aktivitas ekonomi, masyarakat akan lebih mudah menilai dampak lingkungannya dan terdorong untuk melakukan kompensasi melalui kegiatan hijau.
Kalkulator Hijau sebagai Sarana Edukasi
Menurut I Made Rentin, langkah edukasi adalah fondasi penting dalam upaya menciptakan perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan. Banyak pihak yang masih belum memahami besarnya dampak kegiatan sehari-hari terhadap lingkungan. Dengan kalkulator hijau, perhitungan jejak karbon tidak lagi sebatas konsep abstrak, melainkan angka yang bisa dilihat secara nyata.
Alat ini memungkinkan pelaku usaha, instansi pemerintah, maupun masyarakat umum untuk mengetahui seberapa besar jejak emisi yang mereka tinggalkan. Dengan mengetahui angka pastinya, proses evaluasi dan pengambilan keputusan akan menjadi lebih mudah. Misalnya, kegiatan ekonomi atau acara tertentu dapat dihitung dampaknya dan langsung dikompensasi melalui penanaman pohon atau aksi ramah lingkungan lainnya.
Kehadiran kalkulator hijau juga membantu mendorong pola pikir baru bahwa pembangunan ekonomi tidak harus bertentangan dengan pelestarian lingkungan. Dengan perhitungan yang transparan dan jelas, masyarakat dapat memahami pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan.
Penanaman Mangrove sebagai Kompensasi Emisi
Penerapan kalkulator hijau langsung diimplementasikan dalam sebuah kegiatan penanaman seribu pohon mangrove di kawasan Teluk Benoa. Penanaman ini menjadi bentuk kompensasi atas emisi yang ditimbulkan oleh sebuah event besar yang berlangsung sebelumnya. Emisi tersebut dihitung menggunakan kalkulator hijau, menghasilkan angka lebih dari seratus ton karbon yang perlu ditekan atau dikompensasi.
Mangrove dipilih sebagai media kompensasi karena memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap karbon. Ekosistem mangrove tiga hingga lima kali lebih efektif menyerap karbon dibandingkan hutan daratan. Dengan menanam mangrove, proses penyerapan karbon dapat berlangsung lebih cepat sekaligus memberikan manfaat tambahan seperti mencegah abrasi pantai dan meningkatkan biodiversitas.
Langkah ini juga menunjukkan keseriusan Bali dalam menjaga ekosistem pesisirnya. Teluk Benoa, sebagai salah satu kawasan penting di Bali, membutuhkan perhatian ekstra agar tetap lestari. Penanaman mangrove tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga memperkuat ketahanan wilayah pesisir dari risiko bencana alam.
Menumbuhkan Kesadaran Kolektif dan Tanggung Jawab Bersama
I Made Rentin menekankan bahwa keberhasilan upaya pelestarian lingkungan sangat bergantung pada kerja sama berbagai pihak. Pemerintah, pelaku usaha, komunitas, hingga wisatawan memiliki peran penting dalam menjaga Bali tetap asri. Dengan meningkatnya kesadaran kolektif mengenai jejak karbon, semakin besar pula peluang untuk menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan.
Penggunaan kalkulator hijau bisa menjadi pemicu lahirnya gerakan bersama untuk mengurangi emisi. Ketika masyarakat mengetahui dampak konkret dari setiap aktivitas ekonomi, mereka cenderung lebih berhati-hati dan memilih cara hidup yang lebih ramah lingkungan. Mulai dari pengurangan penggunaan energi, pengelolaan sampah, sampai keputusan transportasi yang lebih efisien.
Selain itu, edukasi tentang jejak karbon membantu membuka wawasan baru tentang pentingnya transisi energi dan gaya hidup hijau. Hal ini sejalan dengan visi Bali untuk menjadi provinsi yang memprioritaskan keberlanjutan dalam pembangunan.
Peran Strategis Bali sebagai Pusat Pariwisata Hijau
Sebagai destinasi wisata internasional, Bali menjadi sorotan dalam berbagai isu lingkungan. Ribuan kegiatan ekonomi berlangsung setiap hari, mulai dari hotel, restoran, transportasi, hingga kegiatan rekreasi. Karena itu, langkah menghitung dan mengelola jejak karbon sangat relevan bagi masa depan pariwisata Bali.
Penggunaan kalkulator hijau membantu sektor pariwisata Bali meningkatkan transparansi dan kualitas layanan. Wisatawan global kini semakin peduli pada isu lingkungan dan memilih destinasi yang memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan. Dengan adanya kalkulator hijau, Bali dapat memperkuat citranya sebagai pulau yang tidak hanya indah, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Resort, hotel, dan restoran bahkan dapat menggunakan data jejak karbon untuk mempromosikan layanan mereka sebagai bagian dari pariwisata hijau. Hal ini bisa menjadi nilai tambah yang menarik bagi wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik yang mulai peduli pada isu ekologis.
Kolaborasi Pemerintah, BI, dan Masyarakat untuk Masa Depan yang Lebih Hijau
Sinergi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Bali dalam penerapan kalkulator hijau menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan bisa dimulai dari kebijakan kecil yang berdampak besar. Dengan menyediakan alat perhitungan yang mudah digunakan, BI membantu mempercepat proses adaptasi masyarakat terhadap konsep ekonomi hijau.
Pemprov Bali sendiri telah menunjukkan komitmen nyata melalui kegiatan penanaman pohon, pengelolaan kawasan pesisir, serta kampanye edukasi lingkungan yang terus dilaksanakan. Kombinasi kebijakan, edukasi, dan aksi lapangan menjadi formula penting untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Penerapan kalkulator hijau Bank Indonesia mendapat sambutan positif dari Pemerintah Provinsi Bali. Alat ini menjadi langkah strategis untuk menghitung jejak emisi sekaligus mendorong kompensasi melalui kegiatan ramah lingkungan seperti penanaman mangrove. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang jejak karbon, masyarakat dan pelaku usaha dapat bekerja sama menjaga kelestarian alam Bali.
Melalui kolaborasi berbagai pihak, Bali semakin memperkuat posisinya sebagai provinsi yang serius menjalankan konsep pembangunan berkelanjutan. Langkah sederhana seperti perhitungan emisi dan kompensasi tanaman mangrove menjadi bagian penting menuju masa depan yang lebih hijau dan berkesinambungan.

Cek Juga Artikel Dari Platform beritapembangunan.web.id
