Di kawasan yang tak pernah lepas dari kewaspadaan, lereng Gunung Merapi kembali menjadi ruang perenungan tentang arti kesiapsiagaan bencana. Merapi bukan sekadar gunung api aktif, melainkan lanskap kehidupan bagi ribuan warga yang hidup berdampingan dengan ancaman erupsi. Dalam konteks inilah, upaya kemanusiaan terus berevolusi, tidak hanya berorientasi pada kecepatan evakuasi, tetapi juga pada keadilan dan martabat manusia.
Pada akhir Desember 2025, Kelompok Siaga Bencana Merapi Rescue Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, menginisiasi koordinasi dan kajian pengembangan Barak Inklusi. Kegiatan ini dilaksanakan di kawasan Kandang Kuning Merapi, sebuah titik strategis di lereng gunung yang kerap menjadi pusat aktivitas kesiapsiagaan warga.
Kesiapsiagaan yang Tidak Meninggalkan Siapa Pun
Dalam banyak peristiwa bencana, kelompok rentan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak. Penyandang disabilitas, lansia, perempuan, dan anak-anak kerap menghadapi hambatan berlapis saat evakuasi maupun di pengungsian. Menyadari hal tersebut, KSB Merapi Rescue Umbulharjo menggandeng YEU, sebuah yayasan yang bergerak di isu inklusivitas dan kemanusiaan.
Koordinasi ini membahas konsep barak inklusi yang tidak hanya aman secara struktural, tetapi juga ramah secara sosial dan psikologis. Barak dirancang agar memiliki aksesibilitas yang memadai, ruang yang layak bagi kelompok rentan, serta sistem pengelolaan yang menghormati kebutuhan khusus setiap individu. Pendekatan ini menandai pergeseran paradigma penanganan bencana dari sekadar “menyelamatkan” menjadi “melindungi dengan bermartabat”.
Kajian Lapangan sebagai Dasar Kebijakan Lokal
Tidak berhenti pada tataran wacana, kegiatan ini juga diisi dengan wawancara dan kajian lapangan. Tim melakukan pemetaan kebutuhan, meninjau kondisi fasilitas eksisting, serta mendengarkan pengalaman warga yang pernah menjadi penyintas erupsi Merapi. Data lapangan tersebut menjadi fondasi penting untuk merumuskan rekomendasi pengembangan barak yang benar-benar sesuai dengan realitas di lapangan.
Hasil kajian diharapkan mampu menjawab pertanyaan mendasar: bagaimana barak pengungsian dapat berfungsi sebagai ruang aman bagi semua, bukan hanya tempat berlindung sementara. Di wilayah rawan bencana seperti Merapi, barak inklusi juga diproyeksikan menjadi pusat edukasi kesiapsiagaan dan penguatan komunitas.
Suara dari Garda Terdepan Relawan
Ketua KSB Merapi Rescue Umbulharjo, Sriyono, menegaskan bahwa inklusivitas adalah kebutuhan mendesak dalam sistem penanggulangan bencana modern. Menurutnya, kesiapsiagaan yang tidak berpihak pada kelompok rentan berpotensi melahirkan ketidakadilan baru di tengah situasi darurat.
“Penanganan bencana ke depan harus memastikan tidak ada satu pun warga yang tertinggal. Barak inklusi adalah bentuk komitmen kami agar kesiapsiagaan Merapi berpihak pada semua,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kesadaran kolektif relawan bahwa ancaman bencana tidak boleh memperbesar kerentanan sosial.
Kegiatan ini juga melibatkan relawan KSB lainnya, termasuk Tri Awartin, yang aktif dalam dialog, pengumpulan data, dan pemetaan kebutuhan warga. Peran relawan lokal menjadi kunci karena mereka memahami medan, budaya, serta dinamika sosial masyarakat lereng Merapi.
Barak Inklusi sebagai Investasi Kemanusiaan
Pengembangan barak inklusi bukan hanya respons terhadap bencana yang akan datang, tetapi juga investasi jangka panjang bagi ketahanan sosial masyarakat. Barak yang dirancang inklusif dapat menjadi ruang belajar bersama, tempat simulasi evakuasi, hingga pusat koordinasi komunitas saat tidak terjadi bencana. Dengan demikian, fasilitas ini memiliki fungsi ganda: proteksi dan pemberdayaan.
Dalam konteks perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana, pendekatan berbasis komunitas seperti yang dilakukan KSB Merapi Rescue Umbulharjo menjadi semakin relevan. Kesiapsiagaan tidak lagi bisa diserahkan sepenuhnya pada pemerintah, melainkan membutuhkan sinergi antara warga, relawan, organisasi kemanusiaan, dan pemangku kebijakan.
Merapi dan Tantangan Masa Depan
Gunung Merapi telah berulang kali menunjukkan siklus aktivitasnya. Setiap erupsi menyisakan pelajaran tentang pentingnya kesiapan, solidaritas, dan inovasi sosial. Barak inklusi hadir sebagai jawaban atas tantangan masa depan, ketika bencana tidak hanya diuji dari seberapa cepat evakuasi dilakukan, tetapi juga dari seberapa adil perlindungan diberikan.
Melalui koordinasi ini, KSB Merapi Rescue Umbulharjo menegaskan perannya sebagai garda terdepan kesiapsiagaan berbasis lokal. Sinergi dengan YEU dan berbagai pihak diharapkan memperkuat sistem perlindungan bencana yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
Di lereng Merapi, tempat ancaman dan harapan berjalan beriringan, inisiatif Barak Inklusi menjadi simbol bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar soal bertahan hidup. Ia adalah tentang menjaga martabat, memastikan kesetaraan, dan merawat kemanusiaan—bahkan ketika alam menunjukkan kekuatannya.
Baca Juga : Penghijauan Berkelanjutan Blora Lewat Penanaman Pohon Buah
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : indosiar

