jelajahhijau.com Upaya penghijauan industri otomotif semakin menjadi perhatian utama di banyak negara, termasuk Vietnam. Tekanan global untuk menurunkan emisi dan beralih ke kendaraan ramah lingkungan mendorong pemerintah serta pelaku industri menyusun strategi jangka panjang. Namun, di balik semangat transisi hijau tersebut, muncul kesadaran bahwa pendekatan yang terlalu terburu-buru justru berisiko menghambat pertumbuhan industri dalam negeri.
Berbagai perusahaan otomotif menilai bahwa diversifikasi jalur penghijauan perlu menjadi prinsip utama. Artinya, transisi menuju kendaraan rendah emisi tidak boleh hanya bertumpu pada satu teknologi, melainkan membuka ruang bagi berbagai solusi yang sesuai dengan kondisi pasar, infrastruktur, dan daya beli masyarakat.
Strategi Nasional Jadi Forum Uji Realitas
Dalam proses penyusunan Strategi Pengembangan Industri Otomotif hingga 2030 dengan visi jangka panjang menuju 2045, pemerintah Vietnam membuka ruang dialog yang luas dengan pelaku industri. Melalui lokakarya yang difasilitasi oleh Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam, berbagai masukan dikumpulkan untuk memastikan kebijakan yang disusun tidak hanya ideal secara konsep, tetapi juga aplikatif di lapangan.
Meski rancangan strategi dinilai cukup komprehensif, sejumlah rekomendasi kebijakan masih dikaji ulang. Fokus utamanya adalah memastikan kebijakan tersebut sejalan dengan realitas pasar otomotif Vietnam yang masih berada dalam tahap pengembangan, baik dari sisi produksi, infrastruktur, maupun preferensi konsumen.
Industri Minta Transisi yang Bertahap
Perwakilan perusahaan manufaktur dan perakitan otomotif sepakat bahwa kendaraan energi baru adalah masa depan industri. Namun, mereka menekankan pentingnya peta jalan yang jelas dan bertahap. Transisi yang terlalu cepat, tanpa kesiapan infrastruktur dan pasar, berpotensi menciptakan ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan.
Bagi industri, keberhasilan transisi hijau bukan hanya diukur dari seberapa cepat adopsi teknologi baru, tetapi juga dari seberapa kuat ekosistem pendukungnya. Hal ini mencakup ketersediaan jaringan energi, rantai pasok komponen, hingga kesiapan tenaga kerja.
PHEV Dinilai Lebih Relevan Saat Ini
Salah satu suara yang mencuat dalam diskusi tersebut datang dari Omoda & Jaecoo Vietnam. Perusahaan ini menilai bahwa preferensi konsumen saat ini masih condong ke solusi transisi, bukan kendaraan listrik murni.
Hasil survei internal menunjukkan bahwa mayoritas konsumen lebih memilih kendaraan hybrid plug-in (PHEV) dibandingkan mobil listrik penuh. Pilihan ini didorong oleh sejumlah pertimbangan praktis, mulai dari keterbatasan infrastruktur pengisian daya, biaya operasional, hingga kenyamanan penggunaan di lingkungan perkotaan yang padat.
PHEV dianggap mampu menjembatani kebutuhan konsumen yang ingin berkontribusi pada pengurangan emisi, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada infrastruktur listrik yang belum merata.
Risiko Infrastruktur yang Terfragmentasi
Pelaku industri juga mengingatkan risiko investasi infrastruktur yang terlalu tersebar. Membangun jaringan pengisian daya skala besar memerlukan biaya tinggi dan waktu panjang. Jika dilakukan sebelum permintaan pasar benar-benar matang, investasi tersebut berpotensi tidak optimal dan membebani sektor industri.
Pendekatan bertahap dinilai lebih aman, dengan memprioritaskan teknologi yang fleksibel dan dapat beradaptasi dengan kondisi yang ada. Dengan demikian, pengembangan infrastruktur dapat mengikuti pertumbuhan pasar secara alami, bukan sebaliknya.
Diversifikasi Teknologi Jadi Kunci Ketahanan
Konsep diversifikasi jalur hijau mencakup pengembangan berbagai teknologi, mulai dari hybrid, PHEV, kendaraan listrik murni, hingga riset bahan bakar alternatif. Pendekatan ini memungkinkan industri otomotif Vietnam menjaga ketahanan produksi sekaligus meningkatkan kapasitas dalam negeri.
Diversifikasi juga membuka peluang bagi industri lokal untuk terlibat lebih dalam pada rantai pasok, tanpa harus bergantung penuh pada impor teknologi tertentu. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperkuat daya saing industri otomotif nasional di tingkat regional maupun global.
Keseimbangan antara Ambisi dan Realitas
Para ahli menilai bahwa tantangan utama pemerintah adalah menjaga keseimbangan antara ambisi lingkungan dan realitas ekonomi. Target pengurangan emisi tetap penting, tetapi harus dicapai melalui kebijakan yang realistis dan inklusif.
Pendekatan yang terlalu kaku berisiko menekan industri, sementara pendekatan yang terlalu longgar dapat memperlambat transformasi. Oleh karena itu, dialog berkelanjutan antara pemerintah, industri, dan konsumen menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan yang efektif.
Menuju Industri Otomotif Hijau Berkelanjutan
Penghijauan industri otomotif bukanlah tujuan akhir, melainkan proses jangka panjang. Vietnam dipandang memiliki peluang besar untuk membangun industri otomotif hijau yang kuat, asalkan transisi dilakukan secara terkontrol dan berbasis kebutuhan nyata.
Dengan membuka ruang bagi diversifikasi teknologi dan menyesuaikan kebijakan dengan kondisi pasar, industri otomotif dapat tumbuh secara berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya mendukung target lingkungan, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kapasitas produksi nasional.
Kesimpulan
Usulan diversifikasi jalur penghijauan mencerminkan kedewasaan industri otomotif dalam menghadapi transisi energi. Alih-alih terburu-buru mengejar satu teknologi, pelaku industri mendorong pendekatan yang lebih fleksibel, realistis, dan berorientasi jangka panjang.
Melalui peta jalan yang jelas, kebijakan yang adaptif, serta kolaborasi erat antara pemerintah dan industri, Vietnam berpeluang membangun industri otomotif hijau yang kompetitif dan berkelanjutan hingga dekade mendatang.

Cek Juga Artikel Dari Platform seputardigital.web.id
