Di tengah maraknya narasi keberhasilan penghijauan di kawasan Gunung Ciremai, muncul suara kritis yang mengajak publik untuk lebih berhati-hati dalam menilai kondisi ekologis sebenarnya. Klaim bahwa kawasan Gunung Ciremai kini telah hijau dan pulih sepenuhnya dinilai terlalu disederhanakan dan berpotensi menyesatkan jika tidak dibaca secara utuh dan berbasis data ilmiah.
Ikhsan Marzuki, pegiat sosial sekaligus Inisiator Gerakan KITA, menegaskan bahwa euforia penghijauan sering kali lahir dari kesalahan berpikir yang mendasar. Menurutnya, mengambil contoh visual terbatas dari beberapa titik hijau lalu menggeneralisasikannya sebagai kondisi keseluruhan kawasan merupakan bentuk logical fallacy yang berbahaya.
“Mengambil sebagian kecil contoh untuk menyimpulkan keseluruhan adalah kesalahan berpikir. Klaim seperti itu bukan hanya menyesatkan, tetapi juga mengaburkan fakta ekologis yang lebih besar,” ujar Ikhsan.
Narasi Hijau dan Realitas Lapangan
Salah satu contoh yang kerap dijadikan simbol keberhasilan penghijauan adalah kawasan Palutungan di Kecamatan Cigugur. Namun, Ikhsan menjelaskan bahwa wilayah ini sejak lama memang merupakan kawasan pertanian sayur. Lanskap terbuka tanpa pepohonan bukan semata akibat kerusakan, melainkan fungsi ekonomi lahan yang memerlukan paparan sinar matahari langsung.
Upaya reboisasi memang dilakukan di sejumlah titik bekas ladang. Namun, dalam praktiknya, proses tersebut tidak sebanding dengan laju alih fungsi lahan yang justru semakin masif. Di saat narasi penghijauan digaungkan, kawasan hijau di kaki Ciremai perlahan berubah menjadi area wisata buatan, penginapan, dan bangunan komersial.
Transformasi ini menimbulkan paradoks: secara visual tampak lebih “tertata”, tetapi secara ekologis kehilangan fungsi alaminya sebagai kawasan resapan air, penyangga keanekaragaman hayati, dan pelindung sistem hidrologi.
Fakta Ilmiah: Lebih dari 50 Persen Terdegradasi
Kritik Ikhsan diperkuat oleh hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dalam sejumlah publikasi ilmiah, BRIN menyebut Taman Nasional Gunung Ciremai sebagai salah satu kawasan konservasi dengan tingkat degradasi tinggi akibat kombinasi alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan tekanan aktivitas manusia.
Studi yang dilakukan Gunawan & Subiandono menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen kawasan TNGC telah mengalami degradasi dan memerlukan restorasi ekosistem menyeluruh. Artinya, persoalan Ciremai tidak dapat diselesaikan hanya dengan penanaman simbolik atau pencitraan visual jangka pendek.
Restorasi ekosistem sendiri merupakan proses panjang yang mencakup pemulihan struktur vegetasi, fungsi tanah, siklus air, hingga keanekaragaman hayati. Menanam pohon hanyalah satu tahap awal, bukan solusi akhir.
Status Lahan Bukan Satu-satunya Masalah
Sebagian pihak kerap berkilah bahwa pembangunan yang marak terjadi tidak berada di dalam kawasan taman nasional, melainkan di lahan milik pribadi. Namun, menurut Ikhsan, pendekatan ini terlalu sempit.
“Persoalannya bukan hanya soal status kepemilikan lahan, tetapi daya dukung ekologis kawasan secara keseluruhan,” tegasnya.
Ekosistem gunung tidak mengenal batas administrasi. Kerusakan di wilayah penyangga tetap berdampak langsung pada kawasan inti, terutama dalam hal ketersediaan air, stabilitas tanah, dan keseimbangan mikroklimat.
Ketika Citra Satelit Membuka Paradoks
Menariknya, bukti citra satelit yang kerap digunakan untuk mendukung klaim penghijauan justru menunjukkan tren lain: pergeseran besar-besaran dari lahan pertanian dan perkebunan tradisional menjadi kawasan wisata buatan. Secara statistik mungkin tercatat sebagai “tutupan lahan baru”, tetapi secara ekologis kualitasnya jauh berbeda dari hutan alami.
Vegetasi homogen, bangunan permanen, dan infrastruktur wisata tidak dapat menggantikan fungsi ekologis hutan primer atau sekunder yang sehat.
Krisis Air di Kaki Gunung
Dampak paling nyata dari ketidakseimbangan ini dirasakan langsung oleh masyarakat di Cigugur dan sekitarnya. Wilayah yang dikenal memiliki puluhan mata air kini justru kerap mengalami kekeringan musiman.
“Ibarat ayam mati di lumbung padi,” kata Ikhsan lirih.
Fenomena ini menjadi alarm bahwa ada yang keliru dalam cara manusia mengelola ruang hidupnya. Ketika air tidak lagi terserap karena perubahan fungsi lahan, bumi kehilangan salah satu mekanisme alaminya untuk memulihkan diri.
Bencana Moral, Bukan Sekadar Alam
Ikhsan menutup refleksinya dengan pandangan yang lebih filosofis. Menurutnya, bumi memiliki mekanisme regenerasi alami melalui siklusnya sendiri. Namun, kerusakan akibat keserakahan manusia tidak bisa disembuhkan dengan cepat.
“Masalah sesungguhnya bukan bencana alam, melainkan bencana moral manusia yang abai terhadap keseimbangan ekologis,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa bumi akan tetap ada, tetapi cara manusia hidup di atasnya yang terancam punah. Di kaki Ciremai, peringatan itu semakin jelas terasa. Bukan lagi waktunya menebar falasi hijau, melainkan bersikap jujur pada data, realitas, dan tanggung jawab bersama.
Baca Juga : Pupuk Kaltim Perkuat Penghijauan Tanam 1.977 Pohon Sepanjang 2025
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : zonamusiktop

