jelajahhijau.com Praktik greenwashing telah menjadi isu besar dalam agenda lingkungan global. Banyak perusahaan menggunakan klaim “ramah lingkungan” atau “berkelanjutan” sebagai alat pemasaran tanpa benar-benar melakukan perubahan berarti. Untuk menghadapi fenomena ini, Indonesia tampil dengan peran lebih ambisius dalam forum internasional dengan mendorong lahirnya aturan global terkait kredit alam.
Dalam Konferensi Iklim COP30 yang berlangsung di Brasil, Indonesia bersama Prancis dan Inggris resmi meluncurkan Nature Credit Policy Forum. Forum ini dirancang untuk menetapkan standar yang jelas, transparan, dan terukur terkait penggunaan kredit alam sebagai instrumen pembiayaan pelestarian lingkungan.
Langkah ini dinilai sebagai salah satu upaya penting untuk memastikan bahwa klaim keberlanjutan dari perusahaan bukan hanya sekadar simbol, tetapi didukung oleh tindakan nyata yang memberikan dampak ekologis.
Kredit Alam: Solusi atau Sekadar Kompensasi?
Kredit alam (nature credits) menjadi salah satu mekanisme baru dalam pembiayaan lingkungan. Melalui mekanisme ini, perusahaan yang memiliki dampak lingkungan dapat mengimbangi kerusakan yang mereka timbulkan melalui investasi pada proyek-proyek pelestarian alam, seperti perlindungan hutan, restorasi lahan basah, konservasi satwa liar, atau pengelolaan kawasan pesisir.
Secara konsep, kredit alam bertujuan menciptakan insentif ekonomi bagi sektor swasta untuk terlibat langsung dalam kegiatan konservasi. Namun dalam praktiknya, muncul sejumlah persoalan serius. Banyak proyek yang diklaim mampu mengurangi emisi atau memulihkan ekosistem ternyata tidak memberikan dampak nyata. Lebih parah lagi, sejumlah investasi tidak tersalurkan kepada pihak yang berhak, terutama masyarakat adat dan komunitas lokal yang menjaga kawasan konservasi.
Inilah yang menjadi celah greenwashing—perusahaan mendapatkan citra positif tanpa kontribusi ekologis yang sepadan.
Melahirkan Aturan Main untuk Cegah Penyalahgunaan
Nature Credit Policy Forum dibentuk sebagai respons terhadap ketidakjelasan mekanisme kredit alam yang semakin populer. Forum ini bertujuan menyusun panduan global mengenai:
- Standarisasi pengukuran dampak lingkungan
- Sistem verifikasi independen untuk memastikan proyek benar-benar efektif
- Kriteria transparansi pembiayaan, termasuk aliran dana untuk pihak lokal
- Prinsip-prinsip keadilan ekologis, agar manfaat tidak hanya diterima perusahaan besar
- Mekanisme akuntabilitas bagi perusahaan yang gagal memenuhi standar
Dengan aturan ini, kredit alam tidak lagi berfungsi sebagai alat pencitraan, melainkan sebagai instrumen nyata untuk memulihkan ekosistem yang rusak dan mencapai target iklim global.
Dukungan Internasional Menguatkan Legitimasi Inisiatif
Inisiatif Indonesia, Prancis, dan Inggris mendapat sambutan positif dari berbagai negara peserta COP30. Banyak negara menilai bahwa kredit alam memiliki potensi besar untuk mempercepat pendanaan pelestarian lingkungan, selama mekanismenya diatur dengan ketat dan tidak membuka ruang penyalahgunaan.
Dukungan juga datang dari lembaga multilateral, organisasi lingkungan, serta komunitas ilmuwan yang selama ini sering mengkritik kredibilitas pasar karbon dan proyek kompensasi alam lainnya.
Dengan adanya dukungan internasional yang kuat, Nature Credit Policy Forum dinilai sebagai langkah strategis dalam mewujudkan target Kunming-Montreal 2030, yaitu melindungi 30 persen kawasan darat dan laut dunia dalam satu dekade.
Menjaga Kredibilitas di Hadapan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal
Salah satu persoalan terbesar dalam implementasi kredit alam adalah minimnya pelibatan masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai penjaga utama ekosistem. Banyak proyek pelestarian alam gagal karena tidak memberikan keterlibatan dan manfaat yang adil bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.
Indonesia menegaskan bahwa aturan main kredit alam harus mencakup prinsip keadilan sosial dan ekologis. Artinya, setiap proyek yang didanai melalui kredit alam wajib memastikan:
- Masyarakat adat dilibatkan sejak tahap perencanaan
- Hak wilayah adat dihormati
- Manfaat ekonomi dibagikan secara proporsional
- Tidak ada praktik pengambilalihan lahan secara sepihak
Ini menjadi syarat penting untuk menghindari konflik sosial dan memastikan keberlanjutan program pelestarian.
Upaya untuk Meningkatkan Transparansi dan Verifikasi
Selama ini, salah satu kritik utama terhadap skema kredit lingkungan adalah kurangnya pengawasan independen. Banyak proyek hanya mengandalkan laporan internal atau verifikasi dari lembaga yang tidak benar-benar bebas dari konflik kepentingan.
Forum kebijakan yang baru dibentuk ini ingin memastikan bahwa setiap kredit alam memiliki standar pengukuran dan verifikasi yang dapat diuji. Penggunaan teknologi seperti citra satelit, pemantauan berbasis komunitas, hingga audit lingkungan independen menjadi komponen penting untuk memastikan keabsahan dampak ekologis.
Dengan demikian, setiap dolar yang diklaim sebagai kontribusi terhadap pelestarian alam benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Menuju Target Kunming-Montreal 2030
Pembentukan Nature Credit Policy Forum menjadi bagian dari upaya global mencapai target Kunming-Montreal, sebuah kesepakatan internasional yang menargetkan perlindungan 30 persen ekosistem laut dan darat pada tahun 2030. Indonesia, dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa, menjadi negara kunci dalam pencapaian target tersebut.
Agar target ini tercapai, mekanisme kredit alam yang kredibel sangat dibutuhkan untuk menggerakkan investasi di sektor konservasi. Namun investasi ini tidak boleh datang dengan mengorbankan keadilan lingkungan dan hak-hak masyarakat lokal.
Kesimpulan: Kredit Alam Harus Jadi Instrumen Nyata, Bukan Alat Pencitraan
Upaya Indonesia melawan greenwashing melalui Nature Credit Policy Forum menegaskan bahwa mekanisme kredit alam harus memiliki standar yang kuat, adil, dan transparan. Tanpa prinsip-prinsip tersebut, kredit alam hanya akan menjadi alat kompensasi semu yang tidak menyelesaikan persoalan lingkungan.
Dengan kolaborasi internasional yang kuat, pelibatan masyarakat lokal, serta sistem verifikasi yang objektif, kredit alam berpotensi menjadi instrumen penting untuk mendukung pemulihan ekosistem global dan mencapai target iklim jangka panjang.

Cek Juga Artikel Dari Platform wikiberita.net
