jelajahhijau.com Perubahan iklim dan kerusakan alam kini menjadi isu besar yang memengaruhi masa depan generasi muda. Dunia pendidikan pun dituntut ikut terlibat aktif dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. MTsN 26 Kepulauan Seribu menjadi salah satu lembaga pendidikan yang bergerak cepat menjawab tantangan tersebut. Madrasah ini terus berinovasi melalui penerapan konsep Sekolah Hijau, sebuah pendekatan pendidikan yang menekankan budaya peduli lingkungan dan praktik keberlanjutan di sekolah.
Konsep Sekolah Hijau tidak sekadar slogan bagi MTsN 26. Program ini dijalankan sebagai bagian dari penguatan karakter siswa, sehingga mereka bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan tanggung jawab moral terhadap alam. Madrasah ingin siswa tumbuh sebagai generasi yang peka terhadap isu lingkungan dan mampu membawa perubahan positif di lingkungannya.
Penerapan Sekolah Hijau Dimulai dari Kebiasaan Sederhana
Kepala madrasah, Maliyatun, menjelaskan bahwa konsep Sekolah Hijau dimulai dari kebiasaan kecil namun berdampak besar. Siswa diajak membiasakan diri menghemat energi. Lampu dan pendingin ruangan hanya dinyalakan sesuai kebutuhan. Siswa juga diajak menanam pohon, merawat taman, serta menjaga kebersihan kelas dan halaman sekolah.
Menurut Maliyatun, upaya tersebut bukan sekadar rutinitas sekolah. Tujuan utamanya adalah membentuk budaya peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa Sekolah Hijau bukan hanya soal fasilitas. Sikap, kesadaran, serta kebiasaan siswa jauh lebih penting.
Dengan pembiasaan itu, siswa belajar menghubungkan kegiatan kecil dengan dampak jangka panjang. Mereka memahami bahwa keputusan sehari-hari seperti membuang sampah pada tempatnya atau mematikan lampu yang tidak dipakai dapat mengurangi kerusakan lingkungan. Pemahaman sederhana ini menjadi fondasi untuk membangun karakter hijau yang kuat.
Pemanfaatan Energi Terbarukan dan Sistem Lingkungan Berkelanjutan
Salah satu hal yang membedakan MTsN 26 Kepulauan Seribu adalah pemanfaatan teknologi berbasis energi terbarukan. Madrasah mulai memasang panel surya untuk mendukung kebutuhan listrik di beberapa area sekolah. Langkah ini menjadi contoh langsung bagi siswa bahwa energi ramah lingkungan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, sekolah menerapkan sistem pengelolaan air dan sampah yang lebih terstruktur. Air hujan ditampung untuk menyiram tanaman. Sampah dipilah menjadi tiga kategori: organik, non-organik, dan daur ulang. Sisa makanan siswa diolah menjadi kompos yang digunakan kembali untuk kebun sekolah.
Dengan konsep itu, siswa tidak hanya memahami teori. Mereka melihat sendiri bagaimana sebuah sistem keberlanjutan dapat bekerja. Praktik langsung seperti ini membuat pelajaran tentang lingkungan menjadi lebih mudah dipahami dan lebih relevan bagi kehidupan mereka.
Prinsip 4R sebagai Standar Perilaku
Maliyatun menegaskan pentingnya penerapan prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Reproduce). Prinsip ini menjadi pedoman dalam semua kegiatan sekolah. Siswa diminta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Barang yang masih baik didorong untuk digunakan kembali. Barang bekas yang bermanfaat diolah menjadi produk kreatif seperti pot tanaman, kerajinan tangan, atau dekorasi kelas.
Madrasah juga mengembangkan program kreatif yang memadukan seni dan lingkungan. Siswa belajar membuat kerajinan dari botol bekas, mendesain kotak sampah ramah anak, dan membuat poster ajakan menjaga lingkungan. Semua kegiatan itu membangun kesadaran bahwa sampah bisa memiliki nilai ekonomi dan seni apabila dikelola dengan benar.
Maliyatun berharap prinsip 4R ini dapat diterapkan di seluruh sekolah lain di Indonesia. Menurutnya, perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Kolaborasi dengan Masyarakat, Pemerintah, dan Orang Tua
Dalam upaya memperkuat program Sekolah Hijau, MTsN 26 tidak bekerja sendiri. Madrasah aktif menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas lingkungan, dan orang tua siswa. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang konsisten di sekolah maupun di rumah.
Pihak madrasah mengadakan kegiatan penanaman pohon bersama masyarakat sekitar. Mereka juga mengundang narasumber dari lembaga lingkungan hidup untuk memberikan edukasi tentang perubahan iklim, sampah plastik, dan konservasi laut. Kegiatan seperti ini membuat siswa memahami bahwa isu lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
Orang tua pun dilibatkan dalam program penghijauan. Mereka diajak mendukung siswa menyediakan wadah bekal ramah lingkungan, mengurangi sampah plastik dari rumah, serta memotivasi anak untuk menerapkan kebiasaan hijau di kehidupan sehari-hari.
Peran Guru dan Tim Sekolah Hijau
Khumaidi, salah satu pencetus program Sekolah Hijau, menjelaskan bahwa guru memiliki peran penting dalam menanamkan nilai keberlanjutan. Guru tidak hanya mengajar materi pelajaran. Mereka juga menjadi teladan dalam menjaga kebersihan, hemat energi, dan konsisten menjalankan gaya hidup ramah lingkungan.
Guru-guru MTsN 26 menyertakan tema lingkungan dalam berbagai pelajaran. Misalnya, pelajaran IPA menjelaskan dampak sampah plastik terhadap ekosistem. Pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan teks tentang pelestarian alam. Pelajaran Seni Budaya memanfaatkan barang bekas menjadi karya kreatif. Semua mata pelajaran memiliki ruang untuk memasukkan pesan tentang lingkungan.
Dengan cara ini, siswa tidak melihat isu lingkungan sebagai topik yang terpisah. Mereka memahami bahwa keberlanjutan adalah bagian dari kehidupan manusia dan harus hadir dalam setiap aktivitas.
Mencetak Generasi Hijau yang Siap Mengubah Lingkungan
Program Sekolah Hijau di MTsN 26 Kepulauan Seribu menciptakan generasi muda yang peduli lingkungan. Mereka bukan hanya menghafal teori, tetapi juga mampu mengubah perilaku. Madrasah berharap siswa dapat menjadi agen perubahan di lingkungannya.
Karakter peduli lingkungan bukan sesuatu yang tumbuh dalam semalam. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil, pembiasaan, contoh nyata, serta dukungan dari sekolah dan keluarga. Dengan program yang terintegrasi seperti ini, MTsN 26 menunjukkan bahwa pendidikan hijau dapat diterapkan secara efektif di semua sekolah.

Cek Juga Artikel Dari Platform monitorberita.com
