jelajahhijau.com Pemerintah Kabupaten Garut terus menunjukkan keseriusannya dalam memperbaiki kualitas hidup masyarakat berpenghasilan rendah. Lewat Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim), Pemkab Garut menggandeng Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara (YAHINTARA) untuk meresmikan program “Rumah Harapan.”
Program ini difokuskan bagi warga yang menderita Tuberkulosis (TBC). Inisiatif tersebut bukan hanya menyediakan rumah layak huni, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk menekan penyebaran penyakit menular di lingkungan padat penduduk.
Peresmian program dilakukan di wilayah Kelurahan Sukamenteri, Kecamatan Garut Kota. Daerah ini dikenal memiliki angka kasus TBC cukup tinggi. Melalui program tersebut, pemerintah daerah ingin membuktikan bahwa kesehatan masyarakat bisa ditingkatkan melalui perbaikan lingkungan tempat tinggal.
Rumah Layak Huni untuk Warga Penderita TBC
Perwakilan Disperkim Garut, Nadia, menjelaskan bahwa program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) akan diarahkan untuk membantu penderita TBC. Ia menilai langkah ini menjadi bentuk intervensi baru pemerintah daerah terhadap masalah sosial dan kesehatan sekaligus.
“Kami ingin ke depan program Rutilahu bisa diprioritaskan bagi warga penderita TBC. Program ini akan membantu mengurangi kemiskinan ekstrem dan juga menekan penyebaran penyakit,” kata Nadia.
Menurutnya, pemerintah daerah mendapatkan data penerima manfaat dari Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara. Data tersebut digunakan untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Nadia juga menegaskan, kerja sama lintas sektor sangat penting agar hasil yang diperoleh bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Peran Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara
Perwakilan Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara, Ruli Oktavian, mengatakan bahwa kerja sama ini adalah bagian dari kelanjutan program “Desa Siaga Tuberkulosis” yang sudah berjalan beberapa tahun. Ia menyebut, pihaknya berfokus pada perbaikan fisik rumah tidak layak agar bisa mendukung kondisi kesehatan penghuninya.
“Latar belakang kami di bidang teknik membuat kami berpikir untuk memperbaiki masalah kesehatan melalui bangunan. Kami membuat rumah dengan ventilasi yang baik, cahaya cukup, dan struktur sehat agar TBC tidak mudah menular,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, YAHINTARA memperkenalkan desain rumah sehat berukuran dua meter kali sembilan meter. Desain ini disesuaikan dengan kondisi lingkungan padat di wilayah perkotaan, namun tetap memprioritaskan sirkulasi udara dan pencahayaan alami. Ruli menilai desain seperti ini efektif untuk mengurangi risiko penularan penyakit di dalam rumah.
Kasus TBC Masih Tinggi di Garut
Ruli mengungkapkan bahwa wilayah Sukamenteri merupakan salah satu area dengan kasus TBC tertinggi di Kabupaten Garut. Dalam radius dua ratus meter, timnya menemukan 13 rumah dengan penghuni penderita TBC. Beberapa rumah bahkan dihuni lebih dari dua orang yang menderita penyakit serupa.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penularan TBC sangat erat kaitannya dengan kondisi hunian. Banyak rumah di kawasan itu tidak memiliki ventilasi cukup dan minim pencahayaan. Faktor inilah yang membuat bakteri mudah berkembang.
Ia berharap pemerintah dapat menetapkan alokasi khusus untuk program Rutilahu bagi penderita TBC. “Jika dari seratus rumah ada lima yang diperuntukkan bagi warga TBC, itu sudah sangat membantu,” katanya. Menurutnya, pendekatan seperti ini tepat sasaran dan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
Suara Bahagia dari Penerima Manfaat
Salah satu warga penerima bantuan, Enti, menyampaikan rasa syukurnya setelah rumah barunya diresmikan. Ia mengaku bahagia karena kini memiliki tempat tinggal yang layak.
“Saya sangat senang. Dulu saya tidak punya rumah, sekarang sudah punya rumah yang bagus dan sehat,” ujar Enti.
Baginya, rumah baru itu bukan sekadar tempat berteduh. Rumah tersebut menjadi simbol kehidupan baru dan semangat untuk sembuh. Ia berharap program seperti ini bisa terus berlanjut agar warga lain yang bernasib serupa dapat merasakan manfaat yang sama.
Sinergi Lintas Sektor Demi Garut Lebih Sehat
Program “Rumah Harapan” menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi lintas sektor bisa menciptakan dampak besar. Pemerintah daerah, yayasan, dan masyarakat bergandengan tangan untuk menekan penyebaran penyakit sekaligus mengatasi kemiskinan.
Melalui pendekatan ini, Pemkab Garut ingin menunjukkan bahwa upaya menjaga kesehatan tidak selalu harus melalui jalur medis. Lingkungan yang sehat dan rumah yang layak juga berperan penting dalam membangun masyarakat yang kuat.
Ke depan, pemerintah berharap konsep serupa dapat diadopsi di daerah lain. Dengan sinergi antara kebijakan perumahan dan kesehatan, Indonesia bisa lebih cepat menuju target eliminasi TBC nasional. “Rumah Harapan” di Garut diharapkan menjadi model inspiratif bagi kabupaten lain yang menghadapi masalah serupa.
Harapan Baru untuk Masa Depan
Langkah Pemkab Garut dan YAHINTARA ini membuktikan bahwa solusi kesehatan dapat dimulai dari rumah. Hunian yang layak menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik, sementara kerja sama antarinstansi memastikan program berjalan efektif.
Bagi masyarakat, program ini membawa harapan baru. Warga yang dulu tinggal di rumah sempit tanpa ventilasi kini memiliki ruang yang lebih sehat dan aman.
“Rumah Harapan” bukan hanya proyek pembangunan fisik, tetapi simbol perubahan sosial. Program ini menunjukkan bahwa perhatian pada kesehatan masyarakat bisa berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan. Jika langkah seperti ini terus berlanjut, cita-cita menuju Garut yang sehat, hijau, dan bebas TBC bukan hal yang mustahil.ehat, dan keluarga sehat berarti masyarakat yang kuat. Dengan komitmen bersama, “Rumah Harapan” bukan sekadar bangunan, melainkan simbol kebangkitan semangat hidup baru bagi banyak warga Garut.

Cek Juga Artikel Dari Platform georgegordonfirstnation.com
