Komitmen Pemerintah Kabupaten Blora dalam menjaga kelestarian lingkungan kembali ditegaskan melalui aksi nyata penanaman ratusan pohon buah di kawasan hutan. Gerakan penghijauan berkelanjutan ini dipimpin langsung oleh Arief Rohman, yang menekankan bahwa pelestarian lingkungan harus dilakukan secara masif, konsisten, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Kegiatan penanaman pohon tersebut digelar di kawasan RTH Jembangan, tepatnya di petak 54D, di belakang Goa Terawang. Lokasi ini dipilih karena memiliki fungsi strategis sebagai kawasan perlindungan lingkungan sekaligus ruang terbuka hijau yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem.
Gerakan Bersama untuk Lingkungan Lestari
Dalam sambutannya, Bupati Arief Rohman menegaskan bahwa gerakan menanam pohon tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, pemerintah daerah membutuhkan dukungan aktif dari dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, hingga masyarakat umum agar dampaknya benar-benar terasa dalam jangka panjang.
“Ini adalah upaya bersama. Kita tidak bisa bekerja sendiri, harus melibatkan semua pihak,” ujar Arief. Ia mencontohkan bagaimana komitmen dari berbagai perguruan tinggi seperti ITB, IPB, dan UGM telah terbangun untuk ikut menyumbangkan pohon, termasuk jenis pohon buah yang bernilai ekologis dan ekonomis.
Kolaborasi lintas sektor ini dinilai penting karena isu lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kebijakan, tetapi juga perubahan pola pikir dan kepedulian kolektif. Dengan melibatkan banyak pihak, penghijauan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan.
Investasi Lingkungan untuk Generasi Mendatang
Bupati Arief juga menekankan bahwa penanaman pohon merupakan investasi jangka panjang bagi generasi mendatang. Ia mengingatkan agar Blora tidak mengulang kesalahan sejumlah daerah lain yang mengalami banjir dan bencana ekologis akibat kerusakan hutan.
“Kita tidak ingin anak cucu kita nanti menghadapi bencana banjir seperti di daerah lain akibat hutan yang gundul. Gejala-gejala itu sudah mulai terlihat di beberapa tempat, sehingga harus kita antisipasi sejak sekarang,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Arief meminta Dinas Lingkungan Hidup untuk mengoordinasikan penggalangan dana CSR dari berbagai pihak. Dana tersebut diharapkan dapat menopang program penanaman pohon secara berkelanjutan, tidak hanya di kawasan hutan, tetapi juga di ruang-ruang publik lainnya.
Peran Camat, Desa, dan Sekolah
Gerakan penghijauan di Blora tidak berhenti di tingkat kabupaten. Pada tahun mendatang, seluruh camat dan kepala desa diminta menggerakkan penanaman pohon di lingkungan kantor dan wilayah masing-masing. Langkah ini bertujuan membangun budaya hijau dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.
Selain itu, Bupati Arief mengapresiasi inisiatif Kementerian Agama yang telah memulai program sedekah pohon, termasuk bagi calon pengantin. Program ini dinilai unik karena mengaitkan momen sakral dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.
Ke depan, sekolah-sekolah juga akan menjadi sasaran penghijauan. Masih banyak halaman sekolah yang terbuka dan berpotensi ditanami pohon produktif. Pemerintah daerah akan mengkaji kebijakan agar sekolah tidak hanya menjadi pusat pendidikan akademik, tetapi juga ruang pembelajaran ekologi bagi siswa.
Penjelasan Perhutani: Hutan sebagai Peluang
Sementara itu, Perhutani KPH Blora melalui Administraturnya, Yeni Ernawati, menjelaskan bahwa penanaman difokuskan pada kawasan perlindungan yang memang layak untuk penghijauan.
Menurut Yeni, penanaman di wilayah bekas tebangan Perhutani sebenarnya telah selesai lebih awal karena musim hujan datang lebih cepat pada tahun ini. Oleh karena itu, fokus saat ini diarahkan ke kawasan perlindungan seperti RTH Jembangan yang berfungsi melindungi sungai dan Goa Macan.
“Kawasan ini sangat tepat untuk dilakukan penanaman tanaman buah,” jelasnya. Pemilihan tanaman buah bertujuan agar kawasan hutan tetap memberikan manfaat hasil hutan bukan kayu tanpa mengurangi fungsi lindungnya.
Manfaat Ekologis dan Edukatif
Jenis tanaman yang ditanam dalam kegiatan ini meliputi 350 pohon alpukat, 50 pohon mangga, dan 50 pohon kedondong. Tanaman-tanaman tersebut dipilih karena memiliki sistem perakaran yang baik untuk menahan erosi sekaligus bernilai ekonomi.
Yeni menegaskan bahwa sekitar 47 persen wilayah Kabupaten Blora merupakan kawasan hutan. Kondisi ini seharusnya tidak dilihat sebagai hambatan pembangunan, melainkan peluang besar jika dikelola secara bijak. Namun, pemanfaatan kawasan harus tetap sesuai fungsi. Di kawasan perlindungan, misalnya, tidak diperkenankan menanam palawija karena berisiko memicu erosi dan pendangkalan sungai.
Selain manfaat ekologis, penanaman pohon buah juga memiliki nilai edukatif. Masyarakat diajak memahami bahwa hutan tidak selalu identik dengan larangan total, tetapi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan tanpa merusak fungsi utamanya.
Menuju Blora yang Hijau dan Tangguh
Gerakan penanaman pohon buah di kawasan hutan Blora menjadi contoh konkret bagaimana pembangunan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Dengan pendekatan kolaboratif, perencanaan jangka panjang, serta pemilihan jenis tanaman yang tepat, Blora berupaya membangun ketahanan ekologis sekaligus kesejahteraan masyarakat.
Penghijauan berkelanjutan ini diharapkan tidak hanya memperindah lanskap, tetapi juga menjadi benteng alami menghadapi perubahan iklim dan potensi bencana. Lebih dari itu, gerakan ini menanamkan pesan kuat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, demi masa depan Blora yang hijau, aman, dan berkelanjutan.
Baca Juga : Mekar Menawan, Bunga Bungur Hiasi Jalan Margonda Raya
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : radarbandung

