Komitmen Pers dalam Pemulihan Lingkungan
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sumenep menegaskan komitmennya untuk tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai bagian dari solusi atas persoalan lingkungan. Pada tahun 2026 mendatang, PWI Sumenep merencanakan pelaksanaan program penghijauan kawasan eks tambang galian C yang selama ini menyisakan persoalan ekologis serius di wilayah perbukitan Sumenep.
Langkah ini menjadi wujud nyata transformasi peran pers yang tidak hanya kritis dalam pemberitaan, tetapi juga aktif dalam aksi sosial dan lingkungan. Program tersebut masuk dalam agenda strategis PWI Sumenep tahun 2026 dan direncanakan menjadi salah satu program unggulan organisasi.
Ketua PWI Sumenep, Faisal Warid, menegaskan bahwa isu lingkungan, khususnya kerusakan akibat aktivitas tambang, tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab moral insan pers. Menurutnya, pers memiliki posisi strategis untuk mendorong kesadaran publik sekaligus terlibat langsung dalam upaya perbaikan.
Masalah Serius Eks Tambang Galian C di Sumenep
Kabupaten Sumenep memiliki sejumlah kawasan perbukitan yang selama bertahun-tahun menjadi lokasi pertambangan galian C. Aktivitas tersebut memang memberikan kontribusi ekonomi, namun di sisi lain meninggalkan dampak lingkungan yang tidak kecil.
Banyak lahan bekas tambang kini berada dalam kondisi gundul, minim vegetasi, dan kehilangan fungsi ekologisnya. Dampak lanjutan yang kerap muncul antara lain meningkatnya risiko longsor, erosi tanah, banjir bandang, hingga terganggunya sumber mata air di sekitar wilayah tambang.
Faisal Warid menilai, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut tanpa upaya pemulihan. Jika tidak ada langkah rehabilitasi, kerusakan lingkungan berpotensi menjadi bencana ekologis yang merugikan masyarakat dalam jangka panjang.
“Pers tidak boleh hanya mencatat kerusakan lingkungan dalam berita. Kami merasa perlu mengambil peran lebih jauh dengan terlibat langsung dalam upaya pemulihan lingkungan,” ujarnya.
Penghijauan sebagai Upaya Rehabilitasi Ekosistem
Program penghijauan yang direncanakan PWI Sumenep akan difokuskan pada lahan-lahan eks tambang galian C yang sudah tidak lagi beroperasi. Penghijauan ini bertujuan mengembalikan fungsi ekologis lahan, memperkuat struktur tanah, serta mengurangi risiko bencana alam.
Jenis tanaman yang akan ditanam direncanakan mencakup tanaman keras dan produktif yang memiliki akar kuat, sehingga mampu menahan erosi sekaligus memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar. Selain aspek ekologis, pendekatan sosial juga menjadi perhatian dalam perencanaan program ini.
Dengan melibatkan warga sekitar, PWI Sumenep berharap kegiatan penghijauan tidak hanya berhenti pada seremonial penanaman, tetapi berlanjut pada proses perawatan dan pemeliharaan tanaman secara berkelanjutan.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci
PWI Sumenep menyadari bahwa pemulihan lingkungan tidak dapat dilakukan sendiri. Oleh karena itu, program penghijauan eks tambang galian C akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, komunitas lingkungan, akademisi, hingga masyarakat sekitar lokasi tambang.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat memperkuat dampak program, baik dari sisi teknis penanaman maupun keberlanjutan pascakegiatan. Sinergi tersebut juga menjadi sarana edukasi publik tentang pentingnya tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan.
Menurut Faisal Warid, keterlibatan banyak pihak akan memperkuat pesan bahwa pemulihan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.
Edukasi Publik dan Kesadaran Lingkungan
Selain aksi penghijauan, program ini juga dirancang sebagai sarana edukasi publik. PWI Sumenep ingin mengajak masyarakat untuk memahami bahwa aktivitas pertambangan harus disertai tanggung jawab terhadap lingkungan pascatambang.
Melalui kegiatan ini, PWI berharap tumbuh kesadaran kolektif bahwa alam tidak hanya dieksploitasi, tetapi juga harus dipulihkan. Edukasi tersebut sejalan dengan peran pers sebagai agen perubahan sosial yang mendorong pembangunan berkelanjutan.
“Harapannya, program ini bisa menjadi contoh bahwa pers tidak hanya mengkritisi, tetapi juga memberi solusi,” kata Faisal.
Menuju Launching Resmi di HPN 2026
Program penghijauan eks tambang galian C ini direncanakan akan dilaunching secara resmi pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Momentum tersebut dipilih sebagai simbol bahwa pers memiliki peran strategis dalam pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.
Melalui program ini, PWI Sumenep ingin memperkuat citra pers sebagai mitra pembangunan yang berpihak pada kepentingan publik, tidak hanya dalam aspek informasi, tetapi juga dalam aksi nyata di lapangan.
Faisal Warid berharap, program tersebut dapat berjalan konsisten dan menjadi inspirasi bagi organisasi pers di daerah lain untuk turut mengambil peran dalam pemulihan lingkungan.
“Bumi membutuhkan lebih banyak tangan yang peduli. Kami ingin pers menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar saksi,” pungkasnya.
Baca Juga : HUT ke-59 Polhut, Kemenhut Perkuat Perlindungan Hutan
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : pestanada

