jelajahhijau.com Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama PTPN I Regional 5 melakukan aksi penghijauan besar-besaran di kawasan Kebun Sumberjambe, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran. Program reboisasi ini menjadi bagian penting dari langkah jangka panjang untuk mencegah banjir dan menjaga keseimbangan lingkungan di wilayah tersebut.
Dalam kegiatan ini, sebanyak 20 ribu pohon ditanam di area konservasi Kebun Sumberjambe yang selama ini dikenal sebagai daerah tangkapan air utama bagi wilayah Pesanggaran. Kawasan ini memiliki fungsi ekologis penting karena menjadi penyangga lingkungan sekaligus sumber aliran sungai menuju wilayah hilir.
Penanaman dipimpin oleh Sekretaris Daerah Banyuwangi, Guntur Priambodo, dan diikuti berbagai unsur, mulai dari pejabat PTPN, organisasi perangkat daerah Banyuwangi, hingga unsur TNI-Polri serta masyarakat setempat. Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa penghijauan bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga agenda keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Reboisasi sebagai Mitigasi Risiko Bencana
Banjir merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di berbagai daerah, termasuk wilayah yang memiliki sungai besar dan kawasan hulu yang mulai berkurang tutupan hutannya. Karena itu, reboisasi menjadi salah satu langkah mitigasi yang sangat penting.
Guntur Priambodo menegaskan bahwa penghijauan ini merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko bencana, khususnya banjir. Dengan adanya penanaman pohon di kawasan hulu, air hujan dapat lebih banyak terserap ke dalam tanah sehingga tidak langsung mengalir deras ke sungai.
Pohon berfungsi sebagai penahan alami yang memperlambat limpasan air, memperkuat struktur tanah, serta mengurangi potensi erosi. Jika kawasan hulu terjaga, maka debit sungai di wilayah hilir dapat lebih stabil dan risiko luapan air bisa ditekan.
Kebun Sumberjambe sebagai Daerah Tangkapan Air Penting
Kawasan Kebun Sumberjambe memiliki peran vital sebagai daerah tangkapan air. Sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan konservasi yang selama ini menjadi penyangga lingkungan dan sumber aliran sungai menuju daerah permukiman.
Menurut Guntur, kawasan ini sangat penting dijaga karena mampu meminimalkan luapan Sungai Karang Tambak yang kerap menimbulkan banjir di wilayah hilir Pesanggaran.
Daerah tangkapan air di hulu berperan seperti spons besar yang menyerap air hujan dan melepaskannya secara perlahan ke sungai. Jika tutupan vegetasi berkurang, maka air akan mengalir langsung dan meningkatkan risiko banjir bandang atau genangan besar.
Karena itu, reboisasi menjadi langkah strategis untuk mengembalikan fungsi alami kawasan tersebut.
Menjaga Ketahanan Air dan Pangan
Selain mencegah banjir, penghijauan ini juga memiliki manfaat besar dalam menjaga ketahanan air dan pangan masyarakat. Air yang tersimpan dengan baik di kawasan hulu akan menjadi sumber kehidupan bagi pertanian, perkebunan, dan kebutuhan rumah tangga.
Ketahanan air sangat berkaitan dengan ketahanan pangan. Jika pasokan air terganggu akibat kerusakan hutan, maka produktivitas pertanian bisa menurun. Oleh sebab itu, reboisasi menjadi investasi jangka panjang yang manfaatnya tidak hanya dirasakan sekarang, tetapi juga oleh generasi mendatang.
Penanaman pohon di kawasan konservasi juga membantu menjaga kesuburan tanah dan memperkuat ekosistem yang mendukung kehidupan masyarakat sekitar.
Kolaborasi Pemerintah, Perusahaan, dan Masyarakat
Kegiatan reboisasi di Sumberjambe menunjukkan pentingnya kolaborasi. Tidak mungkin penghijauan berhasil jika hanya dilakukan oleh satu pihak. Karena itu, Pemkab Banyuwangi menggandeng PTPN I Regional 5 sebagai pengelola kawasan HGU untuk bersama-sama menjaga fungsi konservasi.
Kegiatan ini juga melibatkan berbagai OPD seperti Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, Dinas Pekerjaan Umum Pengairan, Dinas Pertanian, serta aparat keamanan dan masyarakat.
Kolaborasi ini mencerminkan bahwa mitigasi bencana harus dilakukan secara bersama. Penghijauan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga dunia usaha dan warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Pentingnya Peremajaan Tanaman
Guntur juga menekankan bahwa peremajaan tanaman di kawasan konservasi diperlukan agar fungsi hutan tetap berjalan optimal. Pohon yang sudah tua atau berkurang jumlahnya perlu diganti dengan bibit baru agar kawasan tetap hijau dan mampu menyerap air secara maksimal.
Peremajaan ini penting untuk memastikan kawasan hulu terus berfungsi sebagai penyangga lingkungan. Tanpa perawatan dan penanaman berkelanjutan, fungsi konservasi bisa melemah dan risiko bencana meningkat.
Karena itu, penghijauan harus dilakukan secara konsisten, bukan hanya sekali dalam satu kegiatan.
Langkah Jangka Panjang yang Harus Konsisten
Penghijauan Sumberjambe menjadi contoh bahwa pencegahan banjir membutuhkan langkah jangka panjang. Banjir tidak bisa diselesaikan hanya dengan pembangunan infrastruktur di hilir, tetapi juga harus dimulai dari hulu melalui perlindungan hutan dan daerah tangkapan air.
Jika kawasan hulu terjaga, maka risiko banjir di wilayah bawah dapat dikurangi secara signifikan. Hal ini menjadi strategi mitigasi yang lebih alami, berkelanjutan, dan memberikan manfaat luas bagi lingkungan.
Guntur menegaskan bahwa langkah seperti ini harus terus dilakukan secara konsisten agar dampaknya benar-benar terasa dalam jangka panjang.
Penutup
Reboisasi di Kebun Sumberjambe, Banyuwangi, dengan penanaman 20 ribu pohon menjadi langkah strategis dalam mencegah banjir dan menjaga ketahanan air. Kawasan konservasi ini memiliki peran penting sebagai daerah tangkapan air yang memengaruhi debit sungai di wilayah hilir Pesanggaran.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, PTPN, OPD, aparat keamanan, dan masyarakat, penghijauan ini menjadi investasi lingkungan yang manfaatnya akan dirasakan untuk jangka panjang. Dengan konsistensi dan perawatan berkelanjutan, kawasan hulu yang terjaga dapat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko banjir dan menjaga kesejahteraan masyarakat.

Cek Juga Artikel Dari Platform otomotifmotorindo.org
