Revitalisasi Greenhouse Hidroponik Desa Srigading Dimulai
Dua hari berurutan, Sabtu dan Minggu awal Januari, menjadi momen penting bagi upaya menghidupkan kembali greenhouse hidroponik di Desa Srigading. Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Kelompok 106 Dharmayatra dan Kelompok 101 Arutalapratista bergerak bersama menyelesaikan dua pekerjaan inti yang menentukan masa depan greenhouse tersebut.
Kegiatan revitalisasi ini bukan sekadar kerja fisik, tetapi juga bentuk transfer pengetahuan dan komitmen untuk membangun sistem pertanian modern berbasis hidroponik yang berkelanjutan. Dua fokus utama yang dikerjakan secara bertahap adalah pembangunan sistem drainase anti-banjir dan transplantasi bibit ke dalam sistem hidroponik.
Greenhouse sebagai Aset Pertanian Modern Desa
Greenhouse hidroponik Desa Srigading sebelumnya telah dibangun sebagai bagian dari upaya pengembangan pertanian desa. Namun, seiring waktu, keterbatasan perawatan dan persoalan teknis membuat fungsinya menurun. Kondisi lantai yang padat dan sistem pembuangan air yang tidak optimal menjadi salah satu penyebab utama.
Mahasiswa KKM melihat potensi besar greenhouse ini untuk dihidupkan kembali. Dengan perbaikan yang tepat, greenhouse dapat berfungsi sebagai sentra produksi sayuran sehat, sarana edukasi pertanian modern, serta peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Hari Pertama: Membangun Fondasi Drainase Anti-Banjir
Pada hari pertama, Sabtu, mahasiswa memfokuskan tenaga pada persoalan paling krusial, yakni risiko genangan air di dalam greenhouse. Setelah proses pembersihan sebelumnya, terlihat jelas bahwa lantai greenhouse yang datar berpotensi menahan air dari penyiraman maupun rembesan hujan.
Genangan air berlebihan dapat memicu kelembaban tinggi, jamur, serta pembusukan akar tanaman. Oleh karena itu, pembangunan sistem drainase menjadi fondasi utama sebelum sistem tanam diaktifkan kembali.
Dengan peralatan sederhana seperti cangkul, sekop, dan waterpass, mahasiswa merancang jaringan saluran pembuangan air. Saluran utama dibuat memanjang di bagian tengah greenhouse, kemudian disambungkan dengan beberapa cabang yang mengarah ke area bawah rak tanam.
Penggunaan waterpass menjadi bagian penting dalam proses ini. Setiap parit diperiksa kemiringannya agar air dapat mengalir secara gravitasi menuju titik pembuangan di luar greenhouse. Meski terlihat sederhana, tahap ini membutuhkan ketelitian tinggi agar sistem drainase berfungsi optimal dalam jangka panjang.
Kerja Kolektif dan Perhitungan Teknis
Proses penggalian drainase tidak dilakukan secara sembarangan. Mahasiswa membagi tugas antara penggali parit, pengukur kemiringan, dan pengangkut tanah. Diskusi kecil kerap terjadi di lapangan untuk memastikan desain saluran sesuai kebutuhan.
Kerja kolektif ini mencerminkan pendekatan gotong royong yang menjadi ciri khas pengabdian mahasiswa di desa. Di bawah terik matahari, pekerjaan fisik tetap dilakukan dengan semangat karena disadari bahwa drainase adalah kunci keberhasilan sistem hidroponik ke depan.
Hari Kedua: Transplantasi Bibit ke Sistem Hidroponik
Setelah fondasi drainase selesai, hari kedua difokuskan pada tahap biologis yang tak kalah penting, yaitu transplantasi bibit. Pada Minggu, mahasiswa mulai memindahkan bibit tanaman dari media semai ke sistem hidroponik yang telah disiapkan.
Transplantasi dilakukan dengan hati-hati untuk menjaga kondisi akar tetap sehat. Bibit yang telah cukup umur dipilih satu per satu, kemudian ditempatkan pada net pot dan disesuaikan dengan instalasi hidroponik yang ada.
Tahap ini menandai kembalinya fungsi utama greenhouse sebagai ruang produksi tanaman. Bibit yang ditanam menjadi simbol awal kehidupan baru greenhouse hidroponik Desa Srigading.
Menjaga Keseimbangan Teknis dan Alam
Dalam proses transplantasi, mahasiswa tidak hanya fokus pada pemindahan bibit, tetapi juga memperhatikan aspek nutrisi dan sirkulasi air. Larutan nutrisi disesuaikan dengan kebutuhan tanaman agar proses adaptasi berjalan lancar.
Sistem hidroponik yang digunakan dirancang agar efisien dalam penggunaan air dan nutrisi. Dengan drainase yang telah diperbaiki sehari sebelumnya, risiko genangan dapat ditekan, sehingga lingkungan tanam menjadi lebih stabil.
Nilai Edukasi dan Pemberdayaan Desa
Revitalisasi greenhouse ini tidak hanya berdampak pada aspek fisik bangunan, tetapi juga membawa nilai edukasi bagi masyarakat desa. Mahasiswa KKM berperan sebagai fasilitator yang memperkenalkan kembali konsep hidroponik, mulai dari pengelolaan air, nutrisi, hingga perawatan tanaman.
Ke depan, greenhouse ini diharapkan dapat menjadi:
- Sarana belajar pertanian modern bagi pemuda desa
- Sumber produksi sayuran sehat untuk konsumsi lokal
- Model usaha pertanian berbasis teknologi sederhana
Dengan demikian, keberlanjutan proyek tidak hanya bergantung pada mahasiswa, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat Desa Srigading.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski dua tahap penting telah diselesaikan, tantangan ke depan tetap ada. Perawatan rutin, pengelolaan nutrisi, serta pengaturan jadwal panen menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang.
Mahasiswa KKM menyadari bahwa revitalisasi ini hanyalah awal. Diperlukan komitmen bersama antara perangkat desa, kelompok tani, dan generasi muda agar greenhouse dapat terus berfungsi dan berkembang.
Kesimpulan
Revitalisasi greenhouse hidroponik Desa Srigading menjadi contoh nyata kolaborasi antara mahasiswa dan desa dalam membangun pertanian modern. Dalam dua hari kerja intensif, fondasi teknis berupa sistem drainase berhasil dibangun, dan kehidupan baru greenhouse dimulai melalui transplantasi bibit.
Langkah-langkah ini menjadi pondasi penting untuk menghidupkan kembali greenhouse sebagai sentra pertanian berkelanjutan. Dengan perawatan dan pengelolaan yang konsisten, greenhouse hidroponik Desa Srigading berpotensi menjadi aset desa yang produktif dan inspiratif.
Baca juga : Kapolda Riau Resmikan Tabung Harmoni Hijau di Pekanbaru
Cek Juga Artikel Dari Platform : ketapangnews

