Pernyataan Sederhana yang Menyesatkan
Ada sebuah video yang beredar luas, dengan isi pesan yang terasa mengganggu nalar. Salah satu pernyataannya terdengar seolah rasional: hutan boleh ditebang sampai habis selama tidak menyentuh wilayah berair, karena lautlah yang menjadi sumber utama oksigen bagi bumi. Kalimat ini terdengar ilmiah, ringkas, dan meyakinkan. Namun justru di sanalah letak bahayanya. Kesederhanaan tersebut menutup kerumitan ekologis yang seharusnya dipahami, terlebih oleh mereka yang memiliki kewenangan publik.
Pernyataan seperti ini bukan sekadar keliru secara ilmiah, tetapi juga berpotensi menjadi legitimasi kebijakan yang merusak. Ia menyederhanakan sistem alam yang saling terhubung menjadi logika hitam-putih. Seolah-olah hutan dan laut berdiri terpisah, dan kerusakan salah satunya bisa ditebus oleh keberadaan yang lain. Ini bukan sains, melainkan ilusi.
Laut Bukan Alibi untuk Menggunduli Hutan
Memang benar bahwa laut, melalui fitoplankton, alga, dan sianobakteri, berkontribusi besar terhadap produksi oksigen global. Namun fakta yang sering diabaikan adalah bahwa sebagian besar oksigen tersebut langsung dikonsumsi kembali oleh organisme laut itu sendiri. Kontribusinya terhadap oksigen yang bertahan lama di atmosfer darat relatif kecil.
Sebaliknya, hutan darat memainkan peran yang sangat berbeda. Pohon menyerap karbon dioksida secara stabil, menyimpan karbon dalam biomassa dan tanah, serta menghasilkan oksigen yang lebih lama bertahan di atmosfer darat. Selain itu, hutan menjaga siklus air, menahan erosi, mencegah longsor, dan menstabilkan suhu mikro. Membandingkan laut dan hutan seolah salah satunya bisa menggantikan yang lain adalah false dichotomy. Keduanya bukan pesaing, melainkan sistem penyangga kehidupan yang saling melengkapi.
Tidak Ada Hutan Tanpa Air
Bagian paling bermasalah dari narasi tersebut adalah logika “jika tidak ada air, maka hutan boleh ditebang.” Ini adalah pembalikan sebab-akibat yang fatal. Tidak ada hutan tanpa air. Bahkan hutan kering sekalipun tetap bergantung pada siklus hujan mikro, kelembapan tanah, dan proses evapotranspirasi.
Justru pohonlah yang menciptakan air dalam skala lokal. Melalui evapotranspirasi, pepohonan melepaskan uap air ke atmosfer, membantu pembentukan awan, mendinginkan udara, dan memicu hujan. Hutan Amazon bahkan dikenal dengan istilah flying rivers, karena uap air yang dihasilkannya mengalir di atmosfer layaknya sungai tak kasat mata. Maka logika yang benar bukan “karena tidak ada air maka pohon boleh ditebang,” melainkan “karena pohon ditebang maka air menghilang.”
Ilusi Lahan Kering dalam Praktik Industri
Dalam praktik industri kehutanan, pohon yang layak tebang biasanya berdiameter puluhan sentimeter dan berusia puluhan tahun. Pohon seperti ini tidak tumbuh di lahan tandus. Ia memerlukan tanah hidup, mikroorganisme aktif, iklim mikro yang stabil, dan siklus air yang konsisten.
Pertanyaannya menjadi sangat sederhana: di mana sebenarnya lokasi yang benar-benar aman ditebang habis tanpa mengganggu sistem air dan kehidupan di sekitarnya? Jawabannya nyaris tidak ada. Istilah “lahan kering” sering kali hanyalah label administratif, bukan realitas ekologis. Di balik lahan yang disebut kering, tetap ada aliran air bawah tanah, siklus hujan lokal, dan hubungan dengan ekosistem di sekitarnya.
Sejarah yang Dipakai Setengah-setengah
Argumen lain yang sering muncul adalah pembenaran historis: negara-negara maju dulu juga menebang habis hutannya, baru setelah makmur mereka peduli lingkungan. Secara fakta, ini memang benar. Inggris, Amerika, dan negara-negara Eropa pernah membayar mahal industrialisasi mereka dengan polusi dan kerusakan ekologis.
Namun ada detail penting yang sengaja diabaikan. Mereka melakukannya pada masa ketika dampak global dari kerusakan lingkungan belum sepenuhnya dipahami, dan ketika bumi belum berada di ambang krisis iklim seperti hari ini. Mengulang kesalahan yang sudah diketahui dampaknya bukanlah pembelajaran sejarah, melainkan pengulangan yang disengaja.
Lebih jauh lagi, negara-negara tersebut membangun institusi yang kemudian diperbaiki. Regulasi lingkungan diperketat, pemulihan dilakukan, dan pelanggaran dikenai sanksi serius. Sementara di banyak negara berkembang hari ini, eksploitasi justru sering berlangsung tanpa perlindungan ekologis yang memadai, tanpa pemerataan manfaat, dan tanpa jaminan pemulihan.
Kebijakan yang Tampak Pro-Rakyat
Narasi bahwa pembukaan hutan adalah demi kesejahteraan rakyat sering kali terdengar manis. Lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan daerah dijadikan alasan utama. Namun dalam praktiknya, manfaat ekonomi sering terkonsentrasi pada segelintir pihak, sementara dampak ekologis dan sosial ditanggung oleh masyarakat luas.
Ketika hutan hilang, banjir dan longsor meningkat. Ketika air mengering, petani kehilangan sumber penghidupan. Ketika suhu mikro berubah, kesehatan masyarakat terganggu. Kebijakan yang tampak pro-rakyat di atas kertas justru menjadi beban rakyat dalam jangka panjang.
Selamat Tahun Baru, Rakyat Bikini Bottom
Judul ini bukan sekadar sindiran. Ia menggambarkan situasi di mana kebijakan terasa seperti dibuat untuk dunia kartun, bukan untuk realitas ekologis yang kompleks. Seolah-olah kita hidup di Bikini Bottom, tempat hukum alam bisa diabaikan tanpa konsekuensi nyata.
Padahal, alam tidak mengenal kompromi politik. Ia bekerja berdasarkan hukum sebab-akibat. Jika hutan ditebang, air akan hilang. Jika air hilang, bencana akan datang. Dan ketika bencana datang, yang pertama kali terdampak bukanlah para pengambil keputusan, melainkan rakyat biasa.
Menolak Narasi Sederhana yang Berbahaya
Krisis ekologi tidak lahir dari satu keputusan besar, melainkan dari serangkaian pembenaran kecil yang dibiarkan. Narasi sederhana yang terdengar ilmiah tetapi menyesatkan adalah salah satunya. Menolak narasi tersebut bukan soal ideologi, melainkan soal akal sehat dan tanggung jawab antar generasi.
Selamat Tahun Baru, rakyat Bikini Bottom. Semoga tahun ini kita tidak lagi dipaksa percaya bahwa hutan bisa digantikan, air bisa diabaikan, dan alam bisa dinegosiasikan tanpa akibat.
Baca Juga : Bukan Hanya Botak, Kini Hutan Itu Sudah Gundul
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : baliutama

