jelajahhijau.com Upaya menekan risiko bencana longsor di Jawa Barat kembali menjadi sorotan. Sekretaris Fraksi PKS DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Tedy Rusmawan, AT, MM, mendorong agar program penanaman pohon di lahan kritis dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) serta berkelanjutan. Menurutnya, pendekatan sporadis tidak lagi cukup untuk menjawab kompleksitas persoalan lingkungan di wilayah tersebut.
Tedy menilai maraknya bencana longsor di sejumlah daerah tidak bisa dilepaskan dari perubahan tata guna lahan. Kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai hutan lindung atau daerah resapan air kini banyak beralih fungsi menjadi lahan pertanian, perumahan, hingga kawasan vila. Perubahan ini berdampak langsung pada melemahnya daya dukung tanah.
Alih Fungsi Lahan dan Ancaman Longsor
Fenomena alih fungsi lahan menjadi perhatian serius. Hutan yang semula berfungsi sebagai penyangga air dan pengikat tanah beralih menjadi area terbuka dengan vegetasi minim. Kondisi ini membuat tanah kehilangan kemampuan menahan air saat hujan deras turun.
Ketika curah hujan tinggi, tanah yang tidak lagi memiliki sistem akar kuat menjadi lebih mudah tergerus. Akibatnya, longsor dan banjir bandang semakin sering terjadi di berbagai titik di Jawa Barat.
Tedy menegaskan bahwa peristiwa longsor bukan sekadar fenomena alam semata, melainkan juga hasil dari aktivitas manusia yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Reboisasi sebagai Solusi Strategis
Sebagai anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Tedy meminta Organisasi Perangkat Daerah terkait, khususnya Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, untuk menggencarkan kembali program penanaman pohon di lahan-lahan kritis.
Reboisasi dinilai bukan hanya memperkuat struktur tanah, tetapi juga menjaga ketersediaan sumber air bagi masyarakat. Vegetasi yang tumbuh dengan baik mampu meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan, sekaligus mengurangi risiko erosi.
Program penghijauan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat menjadi investasi jangka panjang dalam menjaga stabilitas ekosistem.
Pentingnya Master Plan Penghijauan
Tedy menekankan perlunya penyusunan master plan penghijauan yang terarah dan terukur. Dokumen tersebut harus memuat peta wilayah prioritas, target capaian tahunan, serta pola kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, tanpa perencanaan yang matang, program penanaman pohon berpotensi tidak efektif. Master plan yang komprehensif dapat memastikan bahwa setiap kegiatan reboisasi memiliki arah dan indikator keberhasilan yang jelas.
Selain itu, pola kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, sektor swasta, dan komunitas masyarakat, harus dirancang secara sistematis.
Pendekatan TSM untuk Dampak Maksimal
Pendekatan TSM (Terstruktur, Sistematis, dan Masif) menjadi kunci dalam pelaksanaan reboisasi. Terstruktur berarti setiap tahapan dirancang dengan jelas, mulai dari identifikasi lahan hingga perawatan pascatanam.
Sistematis mengacu pada konsistensi pelaksanaan dan pemantauan. Penanaman pohon tidak boleh berhenti pada seremoni simbolis, tetapi harus diikuti dengan pemeliharaan rutin agar tingkat keberhasilan tinggi.
Sementara itu, masif berarti skala program harus cukup luas untuk memberikan dampak nyata. Reboisasi dalam skala kecil tidak akan mampu mengimbangi laju kerusakan hutan yang terjadi.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Selain manfaat ekologis, reboisasi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi. Program penghijauan dapat membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan.
Lingkungan yang hijau dan stabil juga mendukung sektor pertanian serta pariwisata. Kawasan yang tertata dan terjaga akan lebih menarik sebagai destinasi wisata alam.
Dengan demikian, program penghijauan bukan hanya upaya mitigasi bencana, tetapi juga strategi pembangunan berkelanjutan.
Kolaborasi Lintas Sektor
Tedy menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjalankan program ini. Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dan sektor swasta.
Partisipasi aktif warga dalam menjaga dan merawat pohon yang telah ditanam menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang. Edukasi mengenai pentingnya pelestarian hutan juga perlu diperkuat.
Kesimpulan
Dorongan Tedy Rusmawan untuk menjalankan reboisasi secara TSM dan berkelanjutan di Jawa Barat menjadi langkah strategis dalam menghadapi ancaman longsor akibat alih fungsi lahan. Penyusunan master plan penghijauan yang terarah diharapkan mampu memberikan panduan jelas bagi pelaksanaan program.
Dengan pendekatan terstruktur, sistematis, dan masif, serta kolaborasi lintas sektor, penghijauan dapat menjadi solusi nyata untuk memperkuat daya dukung lingkungan. Upaya ini bukan hanya untuk mencegah bencana, tetapi juga menjaga keberlanjutan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat di masa depan.

Cek Juga Artikel Dari Platform petanimal.org
