Penghijauan Kota Jadi Fokus Utama Pembangunan Lingkungan
Upaya memperbaiki kualitas lingkungan terus menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Depok. Salah satu langkah nyata yang kini mulai terlihat adalah penguatan program penghijauan kota dengan menambah ruang terbuka hijau di berbagai titik strategis. Tidak lagi sekadar menanam pohon pelindung, penghijauan kini diarahkan untuk menghadirkan keseimbangan antara fungsi ekologis dan keindahan visual kota.
Program ini digerakkan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Depok sebagai bagian dari strategi jangka panjang menciptakan kota yang lebih teduh, nyaman, dan ramah bagi warganya. Melalui pendekatan yang lebih terencana, Depok berupaya menjadikan ruang hijau sebagai elemen penting dalam kehidupan perkotaan, bukan sekadar pelengkap.
Tabebuya, Sakura Tropis yang Mulai Mendominasi Lanskap Depok
Salah satu tanaman yang kini menjadi ikon penghijauan Depok adalah tabebuya pink. Pohon ini dikenal luas karena bunganya yang berwarna cerah dan sering dijuluki sebagai “sakura tropis”. Ketika bermekaran, tabebuya mampu mengubah suasana jalanan kota menjadi lebih hidup dan menarik perhatian.
Selain keindahan visual, tabebuya juga dipilih karena daya adaptasinya yang baik terhadap iklim tropis serta perawatannya yang relatif mudah. Kombinasi inilah yang membuat tabebuya dinilai cocok untuk ditanam di kawasan perkotaan yang padat aktivitas, seperti Depok.
Jalan Margonda Jadi Titik Awal Pengembangan Sakura Tropis
Program penanaman tabebuya pertama kali diperkenalkan secara masif di sepanjang Jalan Margonda Raya melalui skema Eco-Sharing Penghijauan Jalan Margonda Raya Segmen II. Jalan Margonda dipilih karena merupakan koridor utama kota dengan tingkat mobilitas tinggi, pusat pendidikan, serta aktivitas ekonomi yang padat.
Melalui program ini, para pelaku usaha di sepanjang Margonda diajak berpartisipasi langsung dalam penghijauan kota. Mereka tidak hanya menanam pohon tabebuya, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk merawat dan menjaga pertumbuhannya. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan rasa memiliki sekaligus kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Kolaborasi Pemerintah dan Pelaku Usaha untuk Lingkungan
Keterlibatan pelaku usaha dalam penanaman tabebuya juga berkaitan dengan kewajiban penanaman pohon pelindung sesuai peraturan daerah. Dengan adanya program ini, kewajiban tersebut tidak hanya bersifat administratif, tetapi diwujudkan dalam bentuk nyata yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dalam jangka panjang, kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat terciptanya koridor hijau di Jalan Margonda. Deretan tabebuya yang tumbuh rapi akan memberikan keteduhan, mengurangi paparan panas, serta meningkatkan kualitas udara di kawasan yang selama ini dikenal padat kendaraan.
Perluasan Penghijauan ke Berbagai Titik Strategis Kota
Penghijauan dengan tabebuya tidak berhenti di Margonda. Pemerintah Kota Depok mulai memperluas penanaman sakura tropis ini ke berbagai lokasi lain, seperti kawasan Universitas Islam Internasional Indonesia dan sepanjang Jalan Raya Bogor. Langkah ini menunjukkan bahwa program penghijauan dirancang secara menyeluruh, tidak terpusat di satu area saja.
Jalan Raya Bogor, yang dikenal sebagai jalur utama dengan lalu lintas padat, menjadi salah satu fokus karena dinilai membutuhkan lebih banyak ruang hijau. Kehadiran tabebuya di kawasan ini diharapkan mampu mengurangi kesan gersang sekaligus memperbaiki kualitas visual lingkungan jalan.
Membangun Identitas Visual Kota yang Lebih Segar
Lebih dari sekadar penghijauan, penanaman tabebuya juga diarahkan untuk membangun identitas visual Kota Depok. Warna pink yang muncul saat musim berbunga diharapkan menjadi ciri khas tersendiri yang mudah dikenali dan membedakan Depok dari kota lain.
Identitas visual ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga tentang membangun kebanggaan warga terhadap kotanya. Ruang kota yang indah dan tertata dapat meningkatkan kenyamanan beraktivitas sekaligus mendorong interaksi sosial di ruang publik.
Gerakan Satu Minggu Satu Pohon untuk Konsistensi Penghijauan
Sebagai pelengkap program besar, DLHK Kota Depok juga mendorong gerakan sederhana namun konsisten, yakni satu minggu satu pohon tabebuya. Gerakan ini dirancang agar mudah diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari instansi, komunitas, hingga masyarakat umum.
Dengan konsistensi penanaman, dampak penghijauan diyakini akan terasa signifikan dalam jangka panjang. Setiap pohon yang ditanam menjadi investasi lingkungan yang manfaatnya akan dirasakan bertahun-tahun ke depan.
Rencana Penataan Area Eks Penertiban Jadi Taman Kota
Langkah inovatif lainnya adalah rencana memanfaatkan area eks penertiban pedagang kaki lima liar di Jalan Raya Bogor menjadi taman kota. Area yang sebelumnya tidak tertata akan disulap menjadi ruang hijau yang fungsional dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Tabebuya akan menjadi elemen utama dalam penataan kawasan ini, sehingga area tersebut tidak hanya hijau, tetapi juga memiliki daya tarik visual. Dengan pendekatan ini, ruang kota yang sebelumnya bermasalah dapat dihidupkan kembali menjadi ruang publik yang positif.
Menuju Depok yang Lebih Teduh dan Berkelanjutan
Secara keseluruhan, program penanaman tabebuya mencerminkan komitmen Kota Depok dalam membangun lingkungan yang lebih sehat, indah, dan berkelanjutan. Pendekatan kolaboratif, konsistensi gerakan, serta pemanfaatan ruang kota yang tepat menjadi kunci keberhasilan penghijauan ini.
Jika program ini terus dijalankan secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin Depok akan dikenal sebagai kota dengan sakura tropis yang bermekaran di berbagai sudutnya, menjadi simbol kota hijau yang nyaman dan membanggakan bagi warganya.
Baca Juga : BPKH Dorong Wakaf Produktif Lewat Penghijauan Gunung Kidul
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : indosiar

