Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menempatkan perayaan Natal 2025 dalam makna yang lebih luas dari sekadar peringatan keagamaan. Di tengah dampak bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, Natal dipandang sebagai momentum refleksi sekaligus panggilan untuk bangkit menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Melalui pernyataan resminya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menegaskan bahwa Natal adalah awal dari karya penyelamatan yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga nyata dalam kehidupan sosial dan lingkungan. Pesan ini menjadi relevan ketika kerusakan alam, perubahan iklim, dan bencana hidrometeorologi semakin sering dirasakan masyarakat.
Natal sebagai Karya Penyelamatan yang Nyata
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menyampaikan bahwa Natal merupakan simbol karya penyelamatan Allah yang dimulai melalui kelahiran Bayi Kristus secara sederhana. Kesederhanaan tersebut, menurutnya, sarat dengan nilai solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama.
“Natal adalah awal karya penyelamatan. Merawat pertiwi dengan menjaga hutan, menjaga sungai dan mata air, serta gerakan penghijauan juga bagian dari karya penyelamatan,” ujar Hasto dalam siaran pers yang diterima pada perayaan Natal 2025.
Ia menekankan bahwa alam raya dan manusia adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketika keseimbangan tersebut terganggu, dampaknya akan kembali dirasakan oleh manusia dalam bentuk bencana dan krisis lingkungan.
Refleksi Natal di Tengah Bencana Banjir
Pesan Natal PDIP tahun ini tidak dapat dilepaskan dari konteks bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Banjir yang terjadi dipandang sebagai peringatan serius bahwa kerusakan lingkungan telah mencapai titik yang mengkhawatirkan.
Menurut Hasto, perayaan Natal seharusnya menjadi momentum untuk merenungkan hubungan manusia dengan alam. Penebangan hutan secara masif, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta pengelolaan sungai yang buruk disebut sebagai faktor yang memperparah risiko bencana.
Dalam pandangan PDIP, bencana bukan semata-mata peristiwa alam, tetapi juga akibat dari pilihan dan tindakan manusia. Oleh karena itu, karya penyelamatan harus diwujudkan melalui perubahan sikap dan kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan.
Menjaga Hutan sebagai Penyangga Kehidupan
Salah satu pesan utama yang disoroti adalah pentingnya menjaga hutan. Hutan dipandang sebagai penyangga kehidupan yang berfungsi mengatur tata air, menjaga kesuburan tanah, serta menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati.
PDIP menilai bahwa upaya perlindungan hutan harus menjadi agenda bersama, tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat dan dunia usaha. Natal dijadikan pengingat bahwa merusak hutan berarti merusak masa depan generasi mendatang.
Dalam konteks ini, gerakan penghijauan dan reboisasi bukan sekadar program simbolik, melainkan tindakan konkret yang mencerminkan nilai kasih dan tanggung jawab sosial.
Sungai dan Mata Air sebagai Sumber Kehidupan
Selain hutan, sungai dan mata air juga mendapat perhatian khusus dalam pesan Natal PDIP. Sungai yang tercemar dan mata air yang rusak dinilai menjadi indikator ketidakseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.
Hasto menegaskan bahwa menjaga sungai bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga soal tata kelola lingkungan yang adil dan berkelanjutan. Sungai yang sehat akan menopang kehidupan masyarakat, pertanian, dan ekosistem secara keseluruhan.
Dalam refleksi Natal, merawat sungai dipandang sebagai bagian dari panggilan moral untuk menjaga kehidupan bersama.
Penghijauan sebagai Gerakan Moral dan Sosial
PDIP juga menekankan pentingnya gerakan penghijauan sebagai bagian dari karya penyelamatan. Menanam pohon bukan hanya aktivitas lingkungan, tetapi juga simbol harapan dan keberlanjutan.
Gerakan penghijauan diharapkan dapat melibatkan berbagai lapisan masyarakat, termasuk generasi muda. Melalui keterlibatan aktif masyarakat, pesan Natal tentang kasih dan tanggung jawab dapat diwujudkan dalam tindakan nyata yang berdampak jangka panjang.
Menurut PDIP, penghijauan adalah investasi moral bagi masa depan bangsa. Pohon yang ditanam hari ini akan menjadi penyangga kehidupan di masa mendatang.
Natal dan Solidaritas Sosial
Makna Natal yang disampaikan PDIP juga menekankan aspek solidaritas sosial. Kelahiran Kristus yang sederhana dipandang sebagai teladan untuk berpihak pada mereka yang paling terdampak oleh bencana dan krisis lingkungan.
Dalam konteks banjir di Sumatera, solidaritas diwujudkan melalui kepedulian terhadap korban bencana, dukungan pemulihan, serta komitmen mencegah terulangnya kerusakan serupa.
PDIP memandang bahwa keadilan sosial dan keadilan ekologis berjalan beriringan. Tanpa lingkungan yang sehat, keadilan sosial sulit diwujudkan secara berkelanjutan.
Menjaga Keseimbangan Alam dan Manusia
Pesan utama Natal 2025 versi PDIP adalah keseimbangan. Alam dan manusia harus berada dalam harmoni agar kehidupan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Ketika keseimbangan ini rusak, maka krisis demi krisis akan terus muncul.
Natal dijadikan titik awal untuk membangun kesadaran kolektif bahwa pembangunan harus selaras dengan pelestarian alam. Setiap kebijakan dan tindakan manusia harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.
Penutup
Perayaan Natal 2025 dimaknai oleh PDIP sebagai momentum refleksi mendalam di tengah tantangan lingkungan yang semakin nyata. Natal tidak hanya dirayakan sebagai peristiwa iman, tetapi juga sebagai panggilan untuk melakukan karya penyelamatan melalui menjaga hutan, sungai, mata air, dan memperkuat gerakan penghijauan.
Pesan ini menegaskan bahwa merawat alam adalah bagian dari tanggung jawab moral bersama. Dengan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, nilai-nilai Natal dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata—bukan hanya sebagai perayaan tahunan, tetapi sebagai komitmen berkelanjutan demi masa depan Indonesia.
Baca Juga : Tabebuya Hiasi Depok, Sakura Tropis Perkuat Wajah Kota
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : ketapangnews

